FBI Bongkar Operasi Spionase Iran via Telegram, Aktivis dan Jurnalis Jadi Target Global

FBI menilai penggunaan Telegram menjadi strategi efektif karena aktivitas berbahaya tersebut tersamarkan dalam lalu lintas data normal, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem keamanan siber konvensional.
Ilustrasi serangan siber global yang memanfaatkan platform Telegram sebagai alat kendali peretas untuk mencuri data korban di berbagai negara.

Jakarta, Ekoin.co – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau Federal Bureau of Investigation (FBI) mengeluarkan peringatan serius terkait aktivitas peretasan yang diduga disponsori oleh pemerintah Iran.

Dalam laporan yang dirilis Jumat (20/3/2026), FBI mengungkap adanya operasi siber terstruktur yang memanfaatkan platform Telegram untuk membidik aktivis, jurnalis, serta kelompok oposisi di berbagai negara.

Aksi ini disebut bertujuan memperkuat agenda geopolitik Teheran dengan cara memantau dan mengumpulkan informasi dari pihak-pihak yang dianggap berseberangan.

Dalam temuannya, FBI menyebut serangan dilakukan melalui dua tahapan utama. Pertama, pelaku menjalankan teknik rekayasa sosial dengan menyamar sebagai pihak terpercaya, seperti rekan kerja atau tim dukungan teknis.

Korban kemudian diarahkan untuk mengunduh file berbahaya yang dikamuflase sebagai aplikasi populer, termasuk versi desktop Telegram atau WhatsApp.

Setelah perangkat terinfeksi, serangan masuk ke tahap kedua. Malware yang tertanam akan menghubungkan perangkat korban ke sistem kendali jarak jauh melalui bot Telegram yang dikendalikan peretas.

Dari situ, pelaku dapat menjalankan berbagai perintah, mulai dari mencuri dokumen, mengambil tangkapan layar, hingga merekam aktivitas komunikasi seperti panggilan video.

FBI menilai penggunaan Telegram menjadi strategi efektif karena aktivitas berbahaya tersebut tersamarkan dalam lalu lintas data normal, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem keamanan siber konvensional.

Dalam laporan itu juga disinggung kelompok peretas bernama Handala yang selama ini mengklaim sebagai hacktivist pro-Palestina. Namun, otoritas Amerika menyebut kelompok tersebut hanyalah kedok dari operasi intelijen Iran yang berada di bawah kendali Ministry of Intelligence and Security (MOIS).

Kelompok ini sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Stryker, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat. Insiden tersebut menyebabkan gangguan besar dan penghapusan data di puluhan ribu perangkat internal perusahaan.

Sebagai langkah penindakan, FBI telah menyita sejumlah situs yang terafiliasi dengan jaringan peretas tersebut, termasuk yang terkait dengan kelompok lain bernama Homeland Justice.

Hingga kini, pihak Telegram belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan penyalahgunaan platform mereka. Sementara itu, FBI memastikan akan terus memantau aktivitas kelompok ini guna mencegah ancaman lanjutan terhadap masyarakat sipil maupun infrastruktur penting di berbagai negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights