Aitat ,EKOIN.CO – Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tergabung dalam misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) diserang oleh sekelompok warga sipil di Kota Aitat, wilayah selatan Sungai Litani, Lebanon, pada Kamis, 10 Juli 2025 waktu setempat.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Konfrontasi terjadi saat patroli UNIFIL memasuki wilayah Wadi Jilou tanpa pengawalan dari Tentara Lebanon. Warga setempat menganggap tindakan tersebut sebagai pelanggaran, sehingga mereka menghentikan laju kendaraan pasukan perdamaian tersebut.
Menurut rekaman yang diambil oleh saksi mata, puluhan warga menghadang jalan dan meminta pasukan UNIFIL untuk berbalik arah. Mereka juga bersikeras bahwa kehadiran pasukan asing di wilayah itu harus mendapatkan pengawalan militer Lebanon.
Namun, patroli UNIFIL menolak untuk mundur. Ketegangan pun meningkat, yang kemudian memicu tindakan dari pihak pasukan perdamaian. Dalam suasana memanas itu, granat asap dan gas air mata digunakan oleh UNIFIL untuk membubarkan kerumunan.
Pihak UNIFIL mengonfirmasi bahwa tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Meski demikian, situasi menegaskan kembali kerentanan yang dihadapi oleh misi perdamaian di wilayah tersebut.
Insiden Terulang, Tuntutan Warga Meningkat
Serangan tersebut bukanlah kejadian tunggal. Menurut laporan resmi, ini merupakan bagian dari rangkaian insiden yang menargetkan UNIFIL dan dilakukan oleh warga sipil dalam beberapa bulan terakhir di Lebanon selatan.
Warga diketahui menolak kehadiran UNIFIL di area-area tertentu, terutama properti pribadi. Mereka menilai inspeksi yang dilakukan pasukan perdamaian kerap melewati batas privasi warga setempat.
Dilansir dari media lokal Lebanon, ketegangan antara warga dan UNIFIL meningkat sejak mandat misi diperbarui. Mandat baru memungkinkan pasukan PBB untuk lebih leluasa bergerak di wilayah operasinya.
Namun, pelaksanaan mandat tersebut tetap mengharuskan koordinasi dengan Angkatan Darat Lebanon. Meski demikian, dalam insiden terbaru ini, UNIFIL melakukan patroli tanpa pengawalan resmi, memicu respons warga.
Pembaruan Mandat dan Dampaknya di Lapangan
Pembaruan mandat UNIFIL sendiri dilakukan oleh Dewan Keamanan PBB pada 2022. Dalam dokumen tersebut, ditegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki kewenangan melakukan patroli mandiri.
Kebijakan itu ditujukan agar UNIFIL bisa menjalankan tugasnya dengan lebih efektif, termasuk memonitor pelanggaran terhadap Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB, yang menjadi dasar keberadaan mereka.
Namun, penerapan di lapangan menunjukkan tantangan besar. Sentimen anti-asing di sebagian komunitas lokal membuat mobilitas pasukan terbatas dan sering kali disalahpahami sebagai intervensi.
Insiden di Aitat mencerminkan ketegangan laten antara misi internasional dan komunitas lokal. Para pejabat Lebanon sebelumnya telah mengimbau warga untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi keamanan.
Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Lebanon mengenai insiden yang terjadi di Aitat. Pihak UNIFIL sendiri masih menunggu hasil investigasi internal untuk menilai prosedur patroli yang dijalankan.
Sementara itu, para pemimpin lokal di selatan Lebanon menyerukan peninjauan ulang terhadap pola interaksi antara UNIFIL dan masyarakat. Mereka menganggap koordinasi yang kuat dengan Tentara Lebanon harus ditegakkan.
Dewan Keamanan PBB dan Sekretariat Jenderal belum memberikan tanggapan langsung atas insiden ini. Namun, sejumlah diplomat menyebut kejadian itu sebagai “peringatan penting” bagi pelaksanaan mandat PBB di kawasan yang sensitif.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan antara warga Lebanon dan UNIFIL meningkat, terutama di daerah yang mengalami dampak langsung dari konflik dan operasi militer sebelumnya.
Meski demikian, UNIFIL menyatakan komitmennya tetap kuat untuk menjalankan misi perdamaian dengan pendekatan yang sensitif terhadap konteks lokal. Mereka juga menekankan bahwa tidak ada niat melanggar privasi masyarakat.
Pihak UNIFIL menegaskan bahwa tindakan penggunaan granat asap dan gas air mata dalam kasus ini dilakukan untuk membubarkan massa, bukan untuk melukai siapa pun.
Seruan bagi penyelesaian damai dan peningkatan komunikasi antara UNIFIL dan penduduk lokal semakin sering disampaikan oleh pemimpin komunitas dan lembaga internasional.
Beberapa lembaga HAM turut menyoroti pentingnya pendekatan dialog dan mediasi dalam setiap gesekan yang melibatkan misi perdamaian internasional di kawasan konflik.
Situasi di Lebanon selatan sendiri masih tergolong labil, meskipun tidak terjadi pertempuran besar. Keberadaan UNIFIL menjadi simbol penting komitmen internasional menjaga ketertiban.
berbagai pihak menyebutkan perlunya evaluasi ulang atas pelaksanaan teknis mandat UNIFIL, terutama menyangkut pengamanan properti pribadi dan keterlibatan militer lokal.
Sebagai langkah ke depan, komunikasi lebih intensif antara UNIFIL, militer Lebanon, dan masyarakat setempat dianggap vital untuk mencegah konflik serupa terulang kembali.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa operasi internasional yang dilaksanakan di tanah asing harus selalu mengedepankan kepekaan budaya dan koordinasi otoritas nasional.
Evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan patroli di daerah sensitif diperlukan untuk menjamin keselamatan semua pihak, baik personel misi perdamaian maupun warga sipil.
UNIFIL diharapkan tidak hanya bertugas menjaga stabilitas, tetapi juga membangun kepercayaan yang lebih kuat dengan masyarakat yang mereka layani.(*)





