Anies Soroti Absennya Presiden RI di PBB Indonesia Harus Aktif Hadapi Tantangan Global

Jakarta, EKOIN.CO – Mantan calon presiden 2024, Anies Baswedan, mengkritisi sikap pasif Indonesia dalam berbagai forum internasional, termasuk Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menyoroti ketidakhadiran Presiden Republik Indonesia dalam pertemuan-pertemuan penting tersebut, yang dinilai dapat mengurangi posisi strategis Indonesia di dunia.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Anies menyampaikan hal ini dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Gerakan Rakyat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (13/7/2025). Ia menekankan bahwa sudah bertahun-tahun kepala negara tidak hadir dalam Sidang Umum PBB, dan hanya diwakili oleh Menteri Luar Negeri.

“Bapak ibu sekalian, bertahun-tahun Indonesia absen di pertemuan PBB. Kepala negara tidak muncul. Selalu Menteri Luar Negeri,” ucap Anies saat menyampaikan pidatonya.

Ia mengibaratkan ketidakhadiran itu sebagai warga kampung yang rumahnya besar, tetapi tidak pernah ikut rapat kampung. Anies menilai, walaupun Indonesia secara geografis dan jumlah penduduk termasuk negara besar, sikap pasif dapat berdampak negatif terhadap posisi tawar Indonesia di dunia internasional.

Indonesia Harus Aktif di Isu Global

Dalam keterangannya kepada media, Anies menggarisbawahi perlunya Indonesia mengambil peran aktif dalam menghadapi tantangan global yang kini berkembang pesat. Ia menyebut isu lingkungan hidup sebagai persoalan utama yang mendesak untuk segera direspons secara nyata.

“Jadi ada tantangan besar soal lingkungan hidup. Ini adalah masalah kemanusiaan dan Indonesia bisa ambil peran di situ,” ujar Anies.

Ia juga menyinggung meningkatnya konflik global, terutama yang terjadi di kawasan Timur Tengah, serta ketegangan yang disebabkan oleh kebijakan ekonomi dan perdagangan internasional.

“Yang kedua, ketegangan-ketegangan akibat konflik yang bermunculan di beberapa wilayah. Akhir-akhir ini muncul di Timur Tengah,” sambung Anies.

Lebih lanjut ia menegaskan, Indonesia dapat berkontribusi secara konkret dalam merespons ketegangan ekonomi dunia. Menurutnya, Indonesia harus menampilkan posisi aktif, bukan hanya di level politik, tetapi juga dalam diplomasi dan kebijakan ekonomi internasional.

“Yang ketiga adalah ketegangan akibat kebijakan ekonomi, perdagangan di dunia. Nah, kita di Indonesia bisa ikut ambil peran di situ,” katanya.

Kontribusi Jakarta dalam Krisis Iklim

Selain membahas ketidakhadiran presiden di forum global, Anies juga menyoroti upaya konkret yang bisa dilakukan mulai dari tingkat kota. Ia menyebut Jakarta sebagai contoh kota besar di belahan bumi selatan yang sudah melakukan langkah mitigasi terhadap perubahan iklim.

“Jakarta adalah kota terbesar di belahan selatan bumi ini. Itu kota terbesar,” ungkap Anies.

Menurutnya, Jakarta merasakan dampak nyata dari perubahan iklim. Karena itu, tindakan konkret di tingkat lokal menjadi sangat penting untuk menunjukkan keseriusan dalam merespons krisis lingkungan global.

“Karena itu kita harus ambil langkah-langkah yang real di Jakarta,” tambahnya.

Anies memaparkan bahwa pengurangan emisi karbon menjadi fokus utama dalam agenda penanganan krisis iklim di Jakarta. Salah satu cara yang diambil ialah mendorong konversi transportasi publik ke sistem ramah lingkungan, seperti penggunaan bus listrik.

“Itu sudah dikerjakan, bagus diteruskan,” ujarnya.

Ia berharap inisiatif serupa dapat ditiru oleh kota-kota lain di seluruh Indonesia. Menurutnya, banyak permasalahan iklim dan cuaca ekstrem bermula dari kawasan urban.

“Dan mudah-mudahan kota-kota lain di seluruh Indonesia melakukan hal yang sama,” kata Anies menutup pernyataannya.

Dalam pidato politik di Rapimnas Gerakan Rakyat, Anies tidak hanya menyoroti ketidakhadiran presiden, tetapi juga mendesak agar Indonesia lebih tegas dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, dukungan politik dan diplomatik yang selama ini diberikan perlu ditingkatkan dalam bentuk langkah nyata.

Anies juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam solusi global atas tantangan kemanusiaan dan lingkungan. Ia menyebut bahwa potensi tersebut belum dimaksimalkan secara optimal di forum-forum dunia.

Kritik tersebut muncul di tengah meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap peran aktif Indonesia di dunia internasional, terlebih pasca-pandemi dan di tengah ketegangan geopolitik global yang terus berkembang.

Ia menilai, jika Indonesia terus bersikap pasif, maka negara lain akan mengisi kekosongan kepemimpinan di berbagai forum global. Hal ini dapat membuat suara Indonesia semakin tak terdengar di tingkat internasional.

Anies menyatakan bahwa partisipasi kepala negara dalam forum penting seperti PBB bukan sekadar simbolis, tetapi juga menyangkut arah kebijakan luar negeri secara strategis.

Menurut Anies, tantangan-tantangan global saat ini membutuhkan keterlibatan langsung dari pemimpin negara, termasuk dalam mengomunikasikan komitmen Indonesia di hadapan dunia internasional.

Ia menyimpulkan bahwa forum-forum global adalah tempat yang tepat untuk memperjuangkan kepentingan nasional, serta menunjukkan posisi Indonesia sebagai bangsa yang bertanggung jawab dan siap mengambil peran.

Kritik Anies Baswedan terhadap ketidakhadiran Presiden RI di Sidang Umum PBB menunjukkan adanya kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk lebih aktif di kancah internasional. Menurut Anies, kehadiran kepala negara dalam forum dunia memiliki arti penting, bukan hanya simbolik, tetapi juga strategis.

Ia menyebut bahwa ketidakhadiran itu dapat melemahkan posisi Indonesia di tengah berbagai tantangan global yang memerlukan sikap tegas dan partisipasi aktif. Dukungan Indonesia terhadap isu Palestina dan perubahan iklim, menurutnya, harus dikonkretkan dalam tindakan nyata.

Langkah-langkah yang telah dilakukan di Jakarta, terutama dalam hal transportasi ramah lingkungan, bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menyikapi krisis iklim global. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia mampu berkontribusi di tingkat lokal maupun global.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan krisis lingkungan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain aktif yang memiliki posisi jelas di berbagai isu dunia. Anies menekankan pentingnya kehadiran langsung pemimpin bangsa dalam menyuarakan kepentingan Indonesia di forum global.

Gagasan ini mencerminkan harapan agar Indonesia mengambil peran yang lebih signifikan, mengingat posisinya sebagai salah satu negara besar yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan global.(*)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini