Kuala Lumpur EKOIN.CO – Asia Tenggara dikenal memiliki kekuatan udara yang terus berkembang seiring meningkatnya ancaman regional dan perlombaan alutsista di kawasan. Salah satu aspek yang menonjol dari perkembangan tersebut adalah keberadaan pesawat tempur berukuran besar dengan kemampuan serang dan pertahanan canggih. Malaysia, Indonesia, dan negara tetangga lainnya telah mengoperasikan jet tempur raksasa sebagai bagian dari strategi pertahanan mereka.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dalam laporan yang dikutip dari Airspace Review, terdapat lima jenis pesawat tempur dengan dimensi terbesar di Asia Tenggara. Pesawat-pesawat ini tidak hanya mengesankan dari segi ukuran, tetapi juga dari kemampuan tempur yang mereka miliki. Di antara lima pesawat tersebut, Indonesia termasuk salah satu negara yang mengoperasikannya.
Salah satu jet tempur terbesar adalah F/A-18C/D Hornet yang dimiliki oleh Angkatan Udara Diraja Malaysia. Pesawat buatan McDonnell Douglas tersebut memiliki panjang 17,1 meter, bentang sayap 12,3 meter, dan tinggi mencapai 4,7 meter. Berat lepas landas maksimumnya adalah 23.541 kilogram.
Selain Malaysia, Singapura juga tercatat mengoperasikan jet tempur besar seperti F-15SG. Pesawat ini merupakan varian dari F-15E Strike Eagle yang telah dimodifikasi. Panjang pesawat ini sekitar 19,4 meter dengan bentang sayap 13 meter dan berat maksimum lepas landas sebesar 36.741 kilogram.
Indonesia sendiri tak tertinggal dalam hal ini. TNI AU mengandalkan pesawat tempur Sukhoi Su-30MK2 yang memiliki panjang sekitar 21,9 meter dan bentang sayap 14,7 meter. Jet tempur buatan Rusia tersebut memiliki bobot maksimum saat lepas landas hingga 38.000 kilogram, menjadikannya salah satu yang terbesar di kawasan.
Kemampuan tempur sebanding dengan ukuran pesawat
Ukuran besar pesawat tempur ini bukan tanpa alasan. Dimensi yang luas memungkinkan pengangkutan bahan bakar dalam jumlah besar, serta pemasangan persenjataan yang lebih variatif. Hal ini secara langsung meningkatkan jangkauan dan daya hancur dari setiap pesawat.
Khusus untuk Su-30MK2 yang dioperasikan TNI AU, jet ini dapat membawa berbagai jenis rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan. Menurut data dari Airspace Review, jet ini juga memiliki kemampuan manuver yang tinggi, cocok untuk pertempuran udara jarak dekat.
Di sisi lain, F-15SG milik Singapura dilengkapi dengan radar AESA dan sistem avionik terbaru. Pesawat ini dapat melaksanakan berbagai misi mulai dari serangan darat hingga pertempuran udara superioritas. Kemampuan ini membuat F-15SG menjadi tulang punggung Angkatan Udara Republik Singapura.
Thailand juga turut ambil bagian dalam kompetisi kekuatan udara regional dengan mengoperasikan Saab JAS 39 Gripen. Meski ukurannya lebih kecil dibanding lainnya, jet ini tergolong modern dan sangat efisien. Dengan panjang 14,1 meter dan bobot maksimum 14.000 kilogram, Gripen didesain untuk fleksibilitas tinggi.
Pesawat kelima dalam daftar adalah Sukhoi Su-27SK yang juga dioperasikan oleh Indonesia. Panjangnya hampir sama dengan Su-30, yakni 21,9 meter, dengan berat lepas landas mencapai 30.450 kilogram. Jet ini telah lama menjadi andalan dalam armada tempur udara Indonesia.
Komposisi kekuatan udara ASEAN makin variatif
Kehadiran pesawat tempur besar di Asia Tenggara mencerminkan perubahan strategi pertahanan negara-negara di kawasan. Dengan meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan wilayah sekitarnya, negara-negara ASEAN berupaya memperkuat posisi mereka melalui modernisasi alutsista.
Dalam konteks ini, keberadaan jet tempur berukuran besar dan canggih tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai simbol kekuatan militer. Negara-negara tersebut berlomba-lomba mendapatkan teknologi terbaru dari berbagai produsen seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Swedia.
Modernisasi pesawat tempur juga menjadi bagian dari kerjasama militer antar negara ASEAN dan mitra strategis global. Misalnya, Malaysia sempat menjajaki kemungkinan akuisisi F/A-18C/D bekas milik Kuwait, seperti disampaikan oleh Airspace Review pada November 2021.
Dengan semakin banyaknya jet tempur berukuran besar yang beroperasi di kawasan, diperkirakan kekuatan udara ASEAN akan semakin kompleks dan beragam. Kondisi ini dapat memberikan efek jera bagi ancaman eksternal sekaligus meningkatkan stabilitas keamanan regional.
Namun demikian, pengelolaan anggaran pertahanan serta perawatan pesawat-pesawat canggih ini menjadi tantangan tersendiri. Negara-negara operator dituntut untuk menjaga kesiapan operasional dan perawatan sistem avionik yang canggih agar pesawat tetap dalam kondisi prima.
Selain itu, kemampuan pilot dan sistem pelatihan menjadi aspek krusial dalam mendukung efektivitas pesawat tempur besar. Latihan gabungan serta modernisasi doktrin pertahanan udara menjadi strategi yang terus dikembangkan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Kehadiran pesawat tempur besar memang membawa efek strategis terhadap kawasan. Namun penggunaannya tetap harus dalam kerangka hukum internasional dan menjaga stabilitas kawasan. Hal ini menjadi penting agar kekuatan udara tidak berubah menjadi alat agresi.
Dari lima pesawat tempur berukuran besar yang disebutkan, Indonesia mengoperasikan dua jenis, yakni Su-27SK dan Su-30MK2. Hal ini menunjukkan peran aktif Indonesia dalam memperkuat postur pertahanan udara di kawasan Asia Tenggara.
Dengan demikian, Asia Tenggara kini menjadi salah satu kawasan dengan kekuatan udara yang layak diperhitungkan. Transformasi ini tentu akan berdampak terhadap dinamika geopolitik dan keamanan regional, terutama dalam menghadapi potensi konflik terbuka.
dari pemetaan kekuatan udara tersebut menunjukkan bahwa ukuran pesawat tempur tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis, tetapi juga visi strategis negara operator. Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, menunjukkan keseriusan dalam menjaga kedaulatan wilayah udara mereka.
Penting bagi pemerintah untuk terus mendukung kebijakan alutsista yang berorientasi pada penguatan pertahanan nasional. Dalam hal ini, evaluasi berkala terhadap efektivitas dan kelayakan operasional jet tempur sangat diperlukan agar dapat digunakan secara maksimal.
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia, khususnya para teknisi dan pilot, menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan pengoperasian pesawat tempur modern. Kolaborasi dengan negara mitra juga penting untuk mempercepat proses alih teknologi.
Adapun penguatan sistem logistik dan infrastruktur pendukung, seperti hanggar dan radar pemantauan, wajib menjadi prioritas. Tanpa dukungan ini, pesawat canggih tidak dapat menjalankan fungsinya secara optimal di lapangan.
Langkah terakhir adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara pertahanan dan diplomasi. Meski memiliki pesawat tempur besar dan modern, upaya penyelesaian konflik melalui jalur damai harus tetap menjadi pilihan utama dalam setiap kebijakan pertahanan. (*)





