Jakarta, EKOIN.CO – Tren generasi Z untuk beralih ke pekerjaan keterampilan teknis, seperti menjadi teknisi listrik atau tukang ledeng, tanpa harus melalui bangku kuliah, kini semakin meningkat. Alasan utamanya adalah daya tarik gaji yang tinggi tanpa beban utang pendidikan. Namun, sebuah riset terbaru justru menampilkan kenyataan yang berbeda, mengungkap bahwa banyak pekerjaan tersebut ternyata memiliki risiko yang tidak kecil.
Seperti dilansir dari Fortune, riset dari Yijin Hardware menunjukkan bahwa pekerjaan keterampilan teknis justru memiliki risiko pengangguran dan kecelakaan kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan kantoran. Menurut analisis tersebut, pekerjaan di bidang administrasi dan dukungan perkantoran adalah yang paling aman dan stabil bagi mereka yang tidak memiliki gelar sarjana, dengan risiko cedera yang minim. Meskipun pekerjaan seperti teknisi turbin angin menjanjikan pertumbuhan cepat, profesi ini menuntut kondisi kerja yang ekstrem, mulai dari menghadapi cuaca buruk, membawa peralatan berat, hingga bekerja di ruang sempit.
Riset lebih jauh mengungkap bahwa beberapa pekerjaan teknis, seperti pengawas bangunan, tukang listrik, dan tukang ledeng, justru memiliki tingkat pengangguran yang buruk. Sementara itu, pekerjaan di sektor logging, perburuan, perikanan, dan pengelolaan sampah menempati peringkat teratas dalam hal angka kematian akibat pekerjaan.
Yijin Hardware mengidentifikasi lima pekerjaan paling aman bagi mereka tanpa gelar sarjana, yaitu:
- Administrasi dan Dukungan Perkantoran
- Pekerja Produksi
- Instalasi dan Perbaikan
- Konstruksi dan Ekstraksi
- Transportasi dan Pemindahan Material
Pekerjaan kantoran menawarkan risiko fisik yang rendah, permintaan tenaga kerja yang stabil, serta gaji yang cukup layak. Hal ini menjadikannya pilihan menarik bagi Gen Z yang mendambakan stabilitas tanpa perlu menempuh pendidikan tinggi. Meski demikian, pekerjaan administrasi juga menghadapi tantangan, terutama dengan kemajuan teknologi AI yang menyebabkan banyak perusahaan, seperti Intel dan Google, mengurangi posisi entry-level yang berpotensi digantikan oleh teknologi dalam lima tahun mendatang.
Survei lain dari Harris Poll pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 78% warga AS mengamati peningkatan minat anak muda pada pekerjaan seperti pertukangan dan pengelasan. Pendaftaran di sekolah keterampilan bahkan dilaporkan melampaui universitas sejak pandemi. Namun, WalletHub justru menempatkan banyak pekerjaan teknis di peringkat terbawah untuk prospek karier pemula pada tahun 2025, dengan alasan ketersediaan kerja yang terbatas, prospek pertumbuhan rendah, dan risiko kecelakaan yang tinggi.
Selain itu, survei lain juga menemukan bahwa teknisi listrik adalah salah satu profesi yang membuat pekerjanya paling tidak bahagia. Tuntutan fisik yang tinggi dan jam kerja panjang dinilai tidak sebanding dengan gaji yang hanya cukup layak. Tak satu pun pekerjaan teknis masuk ke dalam daftar pekerjaan paling membahagiakan.





