Amerika Serikat Catat Defisit Anggaran Terbesar, Indonesia di Bawah Batas Aman

Jakarta, EKOIN.CO – Isu defisit anggaran menjadi salah satu tolok ukur penting dalam menilai kesehatan fiskal sebuah negara. Pada tahun 2024, sejumlah negara mencatat defisit yang signifikan, baik secara nominal maupun persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit anggaran ini umumnya dibiayai melalui penarikan utang. Semakin besar defisit, semakin besar pula kebutuhan akan pembiayaan utang.

Berdasarkan laporan terkini, Amerika Serikat (AS) menempati posisi teratas sebagai negara dengan defisit anggaran terbesar di dunia. Negeri Paman Sam mencatatkan defisit sebesar US$1,8 triliun, atau setara dengan Rp29.340 triliun, dengan rasio defisit terhadap PDB mencapai 6,4%. Defisit besar ini terutama disebabkan oleh tingginya belanja pemerintah, termasuk untuk sektor pertahanan, kesehatan, dan berbagai program stimulus ekonomi.

Melengkapi tiga besar, India membukukan defisit sebesar US184 miliar (5,8% PDB), disusul Inggris dengan US130 miliar (2,8% PDB). Dari kawasan Amerika Latin, Brasil dan Meksiko juga masuk dalam daftar ini, dengan defisit Brasil mencapai US103 miliar (5,7% PDB).

Meskipun Jepang dikenal sebagai negara dengan utang publik yang tinggi, negara ini mencatat defisit anggaran sebesar US81 miliar atau setara Rp1.333 triliun (3,4% PDB).

Proyeksi Defisit APBN Indonesia 2025

Di tengah kondisi fiskal global yang menantang, Indonesia menunjukkan performa yang relatif stabil. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada akhir tahun 2025 akan berada di angka 2,78% dari PDB. Proyeksi ini disampaikan dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada Selasa (24/5/2025), yang juga membahas kondisi APBN 2025 dan Rancangan APBN (RAPBN) 2026.

“Kami menyampaikan bahwa tahun ini, 2025, outlook dari APBN akan mencapai defisit 2,78% dari PDB. Itu karena dari sisi penerimaan maupun dari sisi belanja negara,” ujar Sri Mulyani usai pertemuan.

Proyeksi defisit ini setara dengan sekitar Rp662 triliun, angka yang sedikit lebih besar dari perkiraan awal sebesar 2,53% PDB atau Rp616 triliun. Pelemahan proyeksi ini terjadi akibat penerimaan negara yang belum sepenuhnya mengimbangi peningkatan belanja, termasuk untuk program prioritas dan strategis pemerintah. Hingga Mei 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp21 triliun atau 0,09% dari PDB, yang menandakan pelebaran defisit akan terjadi pada paruh kedua tahun ini. Meskipun demikian, proyeksi defisit Indonesia ini masih berada di bawah batas aman 3% PDB, dan juga lebih rendah jika dibandingkan dengan mayoritas negara ekonomi besar dunia. Hal ini menunjukkan bahwa disiplin fiskal pemerintah tetap terjaga di tengah tekanan pembiayaan yang meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights