TEHERAN, EKOIN.CO – Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Israel tidak mampu bertahan menghadapi gempuran rudal yang diluncurkan Iran. Ia menyebut perlawanan Israel runtuh di tengah perang yang berlangsung selama 12 hari pada awal musim panas tahun ini.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Larijani menyatakan musuh semula percaya diri memiliki sistem pertahanan canggih. Namun, serangan rudal beruntun Iran berhasil menembus dan melemahkan kemampuan pertahanan udara Israel.
“Musuh mengira mereka memiliki kemampuan pertahanan paling tinggi, tetapi hujan rudal Iran benar-benar membuat mereka tak berdaya,” ujar Larijani dalam program khusus berjudul Tehran–Tel Aviv.
Iran Sebut Rudal Hantam Pertahanan Israel
Larijani, yang dikenal sebagai salah satu pejabat dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menjelaskan bahwa perang singkat tersebut menjadi bukti kelemahan militer Israel. Menurutnya, setiap serangan yang diluncurkan Iran memberikan dampak signifikan pada kepercayaan diri lawan.
Ia juga mengungkapkan adanya pernyataan dari seorang pejabat regional yang pernah berbincang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam percakapan itu, Netanyahu sempat menegaskan bahwa Iran akan “tamat” pada hari pertama perang.
Namun, seiring berjalannya konflik, pada hari keempat hingga kelima, Netanyahu justru mengakui Israel menghadapi “masalah besar” akibat serangan Iran yang terus berlanjut.
Larijani menekankan bahwa pergeseran sikap pemimpin Israel itu menjadi tanda jelas bahwa kekuatan rudal Iran berhasil menciptakan tekanan besar. Situasi ini, menurutnya, membuktikan bahwa narasi superioritas militer Israel mulai dipertanyakan.
Peringatan Bagi Militer Iran
Meski menegaskan keberhasilan serangan rudal, Larijani tetap memperingatkan militer Iran agar tidak terjebak dalam rasa percaya diri yang berlebihan. Ia mengingatkan bahwa perang modern bersifat dinamis dan memerlukan kewaspadaan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, ia meminta pasukan Iran menjaga kesiapan penuh menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi. “Kita tidak boleh menjadi angkuh. Kewaspadaan tetap harus dijaga dalam setiap kondisi,” ungkapnya.
Larijani juga menekankan pentingnya konsolidasi kekuatan dengan negara-negara sekutu regional. Hal ini, katanya, bertujuan memperkuat posisi Iran dalam menghadapi ancaman dari Israel maupun sekutunya di kawasan.
Pernyataan Larijani ini muncul setelah ia menyelesaikan kunjungan diplomatik ke Irak dan Lebanon. Kedua negara tersebut dikenal memiliki hubungan strategis dengan Iran dalam menghadapi pengaruh militer Israel di Timur Tengah.
Selain itu, wawancara ini dinilai sebagai pesan politik yang ditujukan tidak hanya kepada Israel, tetapi juga kepada masyarakat internasional. Iran ingin menunjukkan bahwa mereka mampu menahan dan bahkan melemahkan lawan yang dianggap memiliki militer paling kuat di kawasan.
Sementara itu, analis regional menilai bahwa retorika Iran ini sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan dukungan domestik. Narasi kemenangan atas Israel kerap digunakan sebagai simbol kebanggaan nasional.
Hujan rudal, menurut pengamat, juga berfungsi sebagai peringatan nyata terhadap kemungkinan intervensi militer lebih luas di masa depan. Iran berupaya menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas pertahanan yang tidak bisa diremehkan.
Meski demikian, beberapa pihak memperingatkan bahwa eskalasi seperti ini dapat memicu siklus baru kekerasan di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan Israel disebut berpotensi berkembang menjadi konflik lebih panjang jika tidak diredam.
Konflik 12 hari antara Iran dan Israel menunjukkan bahwa sistem pertahanan modern tidak selalu menjamin kemenangan mutlak. Serangan rudal berhasil menjadi instrumen strategis bagi Iran dalam menekan lawan.
Israel yang selama ini dikenal memiliki teknologi militer maju, justru menghadapi kesulitan besar menahan gempuran tersebut. Hal ini menandai perubahan peta kekuatan di kawasan.
Iran memanfaatkan keberhasilan ini untuk memperkuat citra sebagai kekuatan regional yang disegani. Namun, di sisi lain, ancaman perang berkepanjangan tetap membayangi.
Pesan kewaspadaan yang disampaikan Larijani mencerminkan kesadaran bahwa kemenangan sesaat tidak boleh membuat lengah. Situasi di Timur Tengah masih rawan berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat internasional diharapkan turut mendorong langkah diplomatik agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik lebih besar. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





