JAKARTA, EKOIN.CO – Kisah kapal pesiar mewah MS Prinsendam menjadi salah satu tragedi laut yang paling dikenang, meski tak sepopuler Titanic. Kapal yang sempat merapat ke Indonesia itu terbakar lalu tenggelam di Teluk Alaska pada 4 Oktober 1980, hanya delapan tahun setelah pelayaran perdananya. Tragedi ini mengguncang dunia pelayaran internasional karena melibatkan evakuasi besar-besaran ribuan mil dari daratan.
[Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Tragedi Kapal Pesiar di Alaska
Prinsendam awalnya dipandang sebagai simbol kemewahan dan keselamatan laut modern. Kapal sepanjang 200 meter itu mampu menampung 500 penumpang dengan fasilitas restoran mewah, kabin elegan, hingga hiburan kelas dunia. Bahkan, struktur lambung diperkuat agar tahan gelombang besar, menjadikannya salah satu kapal pesiar paling tangguh pada zamannya.
Meski demikian, kemewahan itu tak menjamin keselamatan. Pada dini hari 4 Oktober 1980, kebakaran hebat melanda ruang mesin. Kapten kapal sempat mengumumkan api berhasil dipadamkan, namun sesaat kemudian kobaran api kembali membesar, disusul ledakan yang membuat asap hitam menutup lorong-lorong kapal. Suasana panik pun tak terhindarkan.
Menurut laporan United States Coast Guard, proses evakuasi berlangsung hingga 10 jam di tengah suhu dingin. Sebuah kapal tanker yang melintas segera merespons panggilan darurat dan mengevakuasi penumpang melalui sekoci. Beruntung, seluruh penumpang dan awak selamat, meski kapal akhirnya tenggelam ke dasar laut Alaska bersama kerugian sekitar Rp10 miliar.
Prinsendam di Indonesia dan Spekulasi Kutukan
Sebelum insiden, kapal pesiar ini sempat singgah di Indonesia. Menurut laporan Sinar Harapan (24 September 1978), Prinsendam menawarkan rute Singapura, Penang, Nias, hingga Indonesia Timur dengan tiket yang ludes terjual meski berharga mahal, sekitar US$ 3.000–6.000. Kehadirannya sempat memikat kalangan elit Indonesia dan Asia yang sedang bangkit ekonominya.
Namun, tragedi kemudian melahirkan cerita mistis. Suara Merdeka (9 November 1980) menulis bahwa enam bulan sebelum insiden, seorang penumpang meninggal di kapal. Jenazahnya dibuang ke laut, tindakan yang dianggap melanggar tradisi pelaut. Sebagian percaya, kebakaran terjadi di lokasi yang sama dengan tempat jenazah dibuang, memunculkan dugaan “kutukan laut”.
Menariknya, saat berada di Indonesia, awak kapal bahkan sempat melakukan ritual adat. Mereka mendatangi Keraton Yogyakarta untuk memohon restu kepada penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, demi keselamatan pelayaran. Meski spekulasi terus beredar, penyebab utama tenggelamnya tetap dinilai karena kegagalan teknis dan kelalaian dalam penanganan kebakaran.
Kini, kisah MS Prinsendam menjadi catatan sejarah maritim dunia. Tragedi kapal pesiar ini menunjukkan bahwa secanggih apa pun teknologi, laut tetap menyimpan misteri dan risiko besar bagi manusia. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





