Jakarta,EKOIN.CO- Konsorsium Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) mengungkapkan bahwa sektor industri di Indonesia berpotensi menekan biaya operasional hingga Rp10,3 miliar per tahun melalui penerapan program hemat energi. Data ini diperoleh setelah dilakukan audit energi pada lima subsektor industri besar, yakni pulp dan kertas, tekstil, makanan dan minuman, serta logam dasar.
Gabung WA Channel EKOIN untuk update berita terbaru
Hasil audit energi yang dilakukan SETI menunjukkan adanya potensi penghematan energi mencapai 28,7 juta kWh setiap tahun. Penghematan ini setara dengan penurunan beban biaya operasional sekaligus mendukung upaya transisi energi nasional yang ramah lingkungan.
Potensi Hemat Energi di Industri
Direktur SETI, Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa hasil audit energi tersebut bukan hanya memberikan gambaran teknis, tetapi juga membuka peluang besar bagi dunia usaha untuk meningkatkan daya saing melalui efisiensi energi. Menurutnya, penghematan Rp10,3 miliar dalam setahun bisa langsung berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.
“Hemat energi adalah investasi yang menguntungkan. Industri tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga ikut berperan dalam menjaga lingkungan dengan menekan emisi karbon,” ujarnya.
Subsektor pulp dan kertas tercatat sebagai pengguna energi terbesar, namun juga menyimpan potensi penghematan paling signifikan. Begitu pula dengan sektor tekstil dan makanan-minuman yang selama ini dikenal padat energi. Dengan perbaikan sistem produksi, penggunaan peralatan yang lebih efisien, serta penerapan manajemen energi yang konsisten, potensi penghematan bisa tercapai.
Sektor logam dasar juga mendapat sorotan khusus karena konsumsi energi yang tinggi dalam proses peleburan dan pengolahan. Audit menemukan bahwa modernisasi peralatan dan sistem kontrol energi dapat memangkas penggunaan listrik dalam jumlah besar.
Dukungan Transisi Energi Nasional
Program audit energi ini merupakan bagian dari upaya mendukung kebijakan transisi energi yang sedang dicanangkan pemerintah Indonesia. Menurut laporan SETI, efisiensi energi di sektor industri dapat menjadi salah satu kunci pencapaian target penurunan emisi nasional.
Selain menekan biaya, hemat energi juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca yang selama ini menjadi tantangan utama di sektor industri. Pemerintah menargetkan bauran energi bersih mencapai 23 persen pada 2025, dan sektor industri diharapkan menjadi motor penggerak utama.
Perusahaan yang berhasil melakukan efisiensi energi berpotensi mendapatkan insentif dari pemerintah. Insentif tersebut dapat berupa keringanan pajak, akses pendanaan hijau, maupun dukungan teknis dalam penerapan teknologi hemat energi.
Tak hanya itu, keterlibatan dunia usaha dalam program efisiensi energi juga dapat meningkatkan citra perusahaan di mata konsumen global yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan. Produk yang diproduksi dengan efisiensi energi dinilai memiliki nilai tambah di pasar internasional.
Audit energi yang dilakukan SETI membuktikan bahwa langkah sederhana seperti perawatan mesin secara rutin, optimalisasi penerangan, hingga penggunaan motor listrik efisien mampu memberikan dampak besar. Implementasi program hemat energi diyakini bisa menjadi solusi strategis untuk menekan biaya tanpa mengurangi produktivitas.
Bagi perusahaan, langkah ini juga bisa menjadi pintu masuk menuju transformasi industri yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi sosial dan lingkungan.
Kesadaran terhadap efisiensi energi kini semakin meningkat di kalangan pengusaha. Banyak perusahaan yang mulai menjadikan hemat energi sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, sejalan dengan tren global menuju keberlanjutan.
Program audit energi yang dilakukan SETI juga mendapat sambutan positif dari pelaku industri. Mereka menilai hasil kajian tersebut memberikan panduan konkret yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Dengan hasil audit ini, diharapkan semakin banyak industri yang termotivasi untuk menerapkan praktik hemat energi. Langkah kolektif dunia usaha diyakini akan memberikan dampak besar dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Penghematan energi di sektor industri Indonesia terbukti bisa memberikan keuntungan ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Data SETI menunjukkan bahwa potensi hemat energi mencapai 28,7 juta kWh per tahun, yang setara dengan penghematan Rp10,3 miliar.
Efisiensi energi dapat menjadi langkah strategis bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saing sekaligus mengurangi emisi karbon.
Kebijakan pemerintah mengenai transisi energi memberi peluang tambahan berupa insentif bagi industri yang berhasil melakukan penghematan.
Langkah nyata hemat energi tidak hanya penting bagi keberlangsungan bisnis, tetapi juga bagi masa depan lingkungan hidup di Indonesia. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





