Jakarta,EKOIN.CO- Sejumlah SPBU swasta menegaskan bahwa etanol tidak boleh dimasukkan ke dalam base fuel atau bahan bakar utama. Pihak operator mengingatkan, meski keberadaan etanol dalam bahan bakar disebut masih dalam aturan domestik, sifat kimianya berpotensi merusak kualitas BBM maupun mesin kendaraan. Ikuti kabar terbaru di WA Channel EKOIN.
Dampak Etanol pada Bahan Bakar
Etanol dikenal mudah menyerap air dari udara. Kondisi ini bisa meningkatkan kandungan air dalam bahan bakar. Menurut penjelasan operator SPBU swasta, keberadaan air dalam kadar tinggi dapat mengganggu performa mesin, khususnya di bagian injektor dan ruang bakar.
Jika hal itu terjadi, kendaraan berisiko mengalami penurunan kinerja, konsumsi bahan bakar meningkat, bahkan menimbulkan kerusakan jangka panjang. Dampak ini yang membuat operator SPBU swasta meminta agar regulasi tentang pencampuran etanol diperhatikan lebih serius.
Selain itu, masalah yang ditimbulkan etanol tidak hanya terkait performa mesin, tetapi juga menyangkut kualitas penyimpanan bahan bakar. BBM yang bercampur etanol dan air berpotensi terkontaminasi lebih cepat sehingga memperpendek umur simpan.
Kekhawatiran SPBU Swasta
Operator menekankan, etanol meskipun dianggap ramah lingkungan karena berbasis biofuel, tetap memiliki kelemahan teknis. “Etanol tidak boleh ada dalam base fuel karena sifatnya yang merusak,” demikian penegasan pihak SPBU swasta dalam keterangan resmi.
Menurut mereka, penggunaan bahan bakar dengan etanol hanya dapat dilakukan dengan teknologi kendaraan yang dirancang khusus. Tanpa itu, risiko kerusakan lebih besar daripada manfaat pengurangan emisi yang ditawarkan.
Kekhawatiran ini juga muncul seiring dengan upaya pemerintah mendorong penggunaan biofuel. Meskipun langkah tersebut sejalan dengan agenda transisi energi, para operator swasta berharap regulasi tetap mengutamakan aspek keamanan dan ketahanan mesin.
Dalam pandangan mereka, kebijakan energi berkelanjutan harus seimbang antara aspek lingkungan dan kenyamanan pengguna. Sebab, jika konsumen mengalami kerugian karena kerusakan mesin, kepercayaan terhadap program energi bersih bisa menurun.
Beberapa ahli otomotif juga sebelumnya mengingatkan bahwa kadar etanol dalam bahan bakar perlu dijaga ketat. Tanpa pengawasan, kualitas BBM di pasaran bisa menurun drastis dan menimbulkan masalah ekonomi maupun teknis di lapangan.
Pada praktiknya, banyak negara yang sudah lama menggunakan campuran etanol dalam BBM. Namun, penerapannya dilakukan dengan standar teknis yang ketat, baik pada bahan bakar maupun spesifikasi kendaraan.
Indonesia disebut perlu menyiapkan regulasi lebih rinci sebelum meluaskan pemakaian etanol dalam BBM. Hal ini penting agar tidak menimbulkan masalah baru bagi industri otomotif maupun pengguna kendaraan.
Pihak SPBU swasta berharap ada ruang dialog terbuka antara pemerintah, penyedia energi, dan industri otomotif. Dengan begitu, jalan tengah bisa dicapai agar program biofuel berjalan tanpa mengorbankan kualitas bahan bakar.
etanol memang punya peran strategis dalam agenda energi bersih. Namun, pengelola SPBU menilai pemanfaatannya tidak boleh tergesa-gesa sebelum kesiapan teknis dan regulasi benar-benar matang. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





