Jakarta,Ekoin.co — Pemerintah memastikan pemulihan lahan pertanian pascabencana tidak hanya fokus pada perbaikan fisik, tetapi juga menjaga penghasilan petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, negara menerapkan skema padat karya agar petani tetap memperoleh pendapatan saat proses rehabilitasi berlangsung.
Melalui program tersebut, pemilik lahan dilibatkan langsung memperbaiki sawah yang rusak, sementara seluruh biaya ditanggung pemerintah pusat.
Mulai dari pengolahan tanah, benih hingga perbaikan irigasi disiapkan negara.
“Petani bekerja di lahannya sendiri dan dibayar. Ini arahan Presiden untuk memastikan produksi pangan tetap terjaga sekaligus melindungi ekonomi petani,” kata Amran, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, skema padat karya memberi penghasilan harian yang cukup bagi keluarga petani selama masa pemulihan. Selain itu, distribusi benih gratis dan dukungan sarana produksi diharapkan mempercepat masa tanam berikutnya.
Di Aceh, sekitar 10 ribu hektare sawah masuk program rehabilitasi dengan kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 200 ribu hari orang kerja.
Pemerintah menargetkan lahan dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang dapat pulih maksimal dalam tiga bulan.
Secara keseluruhan, dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai lebih dari 98 ribu hektare. Aceh menjadi wilayah terluas terdampak, disusul Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Tahap awal rehabilitasi difokuskan pada 13.708 hektare lahan kategori ringan–sedang selama Januari–Februari 2026.
Pemerintah menargetkan hingga 95 persen lahan produktif dapat kembali diolah sebelum masuk musim tanam utama.
“Yang ringan dan sedang kami tuntaskan lebih dulu, agar petani bisa segera menanam kembali,” tegas Amran.





