Jakarta, Ekoin.co – Logam mulia kembali membuktikan kesaktiannya sebagai aset perlindungan nilai (safe-haven).
Setelah sempat terpukul aksi ambil untung (profit taking), harga emas dunia tancap gas pada pembukaan perdagangan pekan ini dan sukses merebut kembali level psikologis di atas US$4.600 per troy ons.
Berdasarkan data pasar spot, Senin (19/1/2026) pagi, harga emas terpantau melonjak tajam 1,67 persen ke posisi US$4.670,99 per troy ons.
Lonjakan ini sekaligus menghapus tren negatif akhir pekan lalu saat emas sempat anjlok ke level US$4.594 akibat isu de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Premi Risiko dan Geopolitik AS-China
Analis Marex, Edward Meir, menilai koreksi yang terjadi sebelumnya merupakan fenomena wajar di tengah kenaikan agresif selama berminggu-minggu.
Meredanya protes di Iran serta sikap wait and see Presiden AS Donald Trump sempat menghilangkan sebagian premi risiko pasar.
Namun, faktor ketidakpastian perdagangan antara AS dan China, terutama pasca-kesepakatan tarif semikonduktor AS-Taiwan, kembali memicu kekhawatiran global.
Di sisi lain, kebijakan moneter The Fed yang diprediksi baru akan memangkas suku bunga pada Juni mendatang tetap menjaga daya tarik emas di mata investor.
Ramalan Gila Wall Street: Menuju US$10.000?
Optimisme terhadap “sang kuning” tampaknya belum mencapai puncaknya. Sejumlah analis kenamaan Wall Street justru mengeluarkan prediksi yang fantastis untuk beberapa tahun ke depan:
- Edward Meir (Marex): Memprediksi emas menyentuh US$5.000 per troy ons pada tahun ini.
- Ed Yardeni (Yardeni Research): Memproyeksikan angka US$6.000 dalam waktu dekat, dan meramal emas akan menyentuh US$10.000 pada tahun 2030 akibat defisit anggaran global yang membengkak.
- Swiss Asia Capital: Memperkirakan harga emas akan berada di level US$8.000 pada tahun 2028.
Emas tetap menjadi primadona utama untuk melindungi kekayaan dari ancaman depresiasi dolar AS dan ketidakpastian tensi internasional yang berkelanjutan.





