Jakarta, Ekoin.co – Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia, Prof. Suzie Sri Suparin Sudarman menilai penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat melanggar hukum Internasional.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat saat ini berubah, dari yang semula state managers, menjadi class business yang lebih mementingkan kepentingan ekonomi besarnya.
“Jadi ini (penangkapan Maduro) pure class business yang melakukan kebijakan luar negeri. Mereka tidak terlalu bertele-tele seperti state managers yang memikirkan soft power, nation building, dan sebagainya. Orang bisnis cuma mengatakan, Kalau ada yang nggak beres, akan saya bereskan. Lalu akan saya atur agar tenang rakyatnya,” ujarnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 14 Januari 2026. “Cara bisnis yang sat-set dan efisien, begitu”.
Operasi militer AS menangkap Maduro dan istrinya di Caracas, ibukota Venezuela, pada 3 Januari lalu. Keduanya didakwa pidana terkait perdagangan narkoba dan terorisme.
Namun aksi AS disebut-sebut terkait cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia. Data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat cadangan minyak Venezuela mencapai 303 miliar barel. Tapi dengan angka sebesar itu, produksi minyak per harinya relatif rendah, yakni 1 juta barel.
Salah satu penyebab kondisi itu adalah tata kelola minyak yang tak optimal dan embargo Amerika.
Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa negaranya akan mengelola minyak Venezuela sampai proses transisi politik dapat dilakukan. Sebagai timbal-baliknya, Trump menjanjikan perbaikan infrastruktur Venezuela.
Menurut Suzie, dinamika politik di Venezuela belum tentu akan menguntungkan Trump ke depannya.
“Masalahnya bagi Trump, kalau Delcy Rodriguez (Presiden Venezuela sementara) tidak lanjut menjabat dan digantikan oposisi, belum tentu dia bisa menguasai rakyatnya. Karena kalau kondisinya tidak stabil, justru akan terjadi chaos,” ujar Suzie.
Begitu pun pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio yang menyebut hasil penjualan minyak akan digunakan untuk memakmurkan rakyat Venezuela, mesti ditunggu implementasinya.
Suzie mengingatkan kembali soal pola dan jejak AS yang bersifat jangka pendek dan transaksional di sejumlah negara yang pernah diintervensi. Seperti Panama, Somalia, Irak, Vietnam, juga Afghanistan. Janji manis AS di awal untuk membangun negara-negara itu bisa dibilang tidak terwujud.
“Di bawah kepemimpinan Trump, AS disebut Suzie semacam tak peduli basa-basi diplomasi dan etika. Bahkan tak segan-segan mengintervensi negara lain demi kepentingannya sendiri. The strong do what they can, and the weak suffer what they must. Jadi apa yang mereka mau, harus terwujud. Kita menyaksikan semacam teater gaya Amerika, budaya bersosialisasinya,” paparnya.
Namun menurut Suzie, se-koboi apapun Trump dalam memimpin, kebanyakan rakyat AS justru memujanya. Ini karena banyak yang mendukung semangat yang diusung Trump dalam dominasi politik dan perlindungan kepentingan ekonomi AS. Its reliving your (AS) tradition. Amerika kembali lagi pada sejarah lama: koboi datang menangkap penjahat. Its in their blood. (*)





