Ekoin.co – Isak tangis tak membendung dari raut wajah Zaitun (18) saat mengenang malam kelam yang menimpa ayahnya, Suderajat (50).
Penjual es kue keliling yang mendadak viral itu tidak hanya harus menghadapi fitnah keji dituduh menjual es berbahan spons, tetapi juga pulang dalam kondisi fisik yang memprihatinkan.
Penantian Zaitun dan ibunya di teras rumah mereka di Bojonggede, Bogor, pada Minggu (25/1) dini hari itu berakhir pilu. Sang ayah yang biasanya tegar mencari nafkah, pulang dalam keadaan lemas tak berdaya.
Kepulangan yang Memilukan di Sepertiga Malam
Setelah menghilang seharian dan sempat dicari hingga ke Stasiun Citayam, Suderajat akhirnya muncul sekitar pukul 04.00 WIB. Bukannya membawa kabar gembira dari sisa dagangan, ia justru membawa trauma.
“Awalnya lemas, langsung tidur. Bapak bilang dipukuli polisi karena dituduh jual es gabus (spons). Awalnya saya tidak percaya, sampai akhirnya ada video yang viral itu,” ujar Zaitun dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya, Selasa (27/1).
Fitnah ‘Es Spons’ yang Menghancurkan Hati
Zaitun mengaku sangat terpukul dan kesal dengan narasi yang beredar di media sosial. Publik menyalahartikan tekstur kenyal “es gabus” yang sudah mencair sebagai spons cuci piring. Baginya, tuduhan itu sangat tidak masuk akal mengingat ayahnya sudah bertahun-tahun mencari nafkah dengan jujur.
“Kesal sekali. Itu bukan spons. Namanya juga es kue, kalau sudah tidak dingin memang teksturnya jadi lembek dan seperti itu. Kenapa harus difitnah?” tegasnya.
Pesan Damai di Balik Luka
Meski melihat sang ayah pulang dengan luka dan rasa sakit akibat kesalahpahaman aparat, Zaitun menunjukkan sisi kemanusiaan yang luar biasa. Alih-alih menuntut balas, ia memilih untuk melapangkan dada.
“Dimaafkan saja menurut aku. Tidak usah gimana-gimana lagi. Saya percaya nanti bakal diganti dengan yang lebih baik lagi,” tutup Zaitun sembari menyeka air matanya.
Kisah Suderajat kini menjadi tamparan keras bagi pengguna media sosial untuk tidak mudah menghakimi tanpa bukti, serta menjadi cermin bagi aparat dalam menangani rakyat kecil yang hanya berusaha menyambung hidup. (*)





