Sejarah Sebagai Gerakan Kebangsaan Jadi Fokus Diskusi ITB
Bandung, Ekoin.co – Forum Guru Besar (FGB) Institut Teknologi Bandung kembali menyelenggarakan agenda rutin dengan mengangkat tema utama mengenai Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme. Pertemuan ilmiah ini berlangsung secara tatap muka di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB dan juga disiarkan secara daring pada Jumat, 27 Februari 2026. Melalui diskusi tersebut, para akademisi berupaya membuka ruang refleksi kritis mengenai dinamika sejarah serta tantangan pascakolonial yang masih dihadapi Indonesia saat ini.
Acara yang berlangsung khidmat ini dipandu oleh Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D., yang merupakan Guru Besar dari Kelompok Keahlian Analisis dan Geometri FMIPA ITB. Pihak penyelenggara menghadirkan dua narasumber kompeten yaitu sejarawan sekaligus anggota DPR RI, Bonnie Triyana, S.S., M.Hum., bersama Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Bambang Purwanto. Kolaborasi pemikiran ini bertujuan untuk membedah bagaimana Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan dapat menjadi fondasi dalam membangun masa depan bangsa yang lebih berdaulat.
Membaca Kolonialitas dalam Kehidupan Berbangsa
Dalam sesi pertama, Bonnie Triyana menguraikan perbedaan mendasar antara kolonialisme yang bersifat fisik dengan kolonialitas yang bekerja secara halus melalui struktur sosial. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Indonesia sudah lama merdeka secara administratif, namun pola pikir lama sering kali masih membekas dalam relasi kuasa masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan menjadi sangat relevan agar masyarakat tidak terjebak dalam romantisme masa lalu semata tanpa melakukan perubahan substansial.
Sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi realitas yang hidup, tutur Bonnie Triyana dalam paparannya di hadapan peserta seminar. Beliau menambahkan bahwa tantangan besar bagi generasi sekarang adalah memastikan bahwa perubahan aktor kepemimpinan juga diikuti dengan perubahan cara berpikir serta bertindak yang lebih progresif. Langkah ini diperlukan agar bangsa Indonesia benar-benar lepas dari bayang-bayang struktur kolonial yang mungkin masih mengakar di berbagai institusi formal maupun informal.
Lebih lanjut, Bonnie juga memberikan dorongan kepada institusi pendidikan tinggi seperti ITB untuk terus mengembangkan sudut pandang yang kritis terhadap dikotomi antara tradisional dan modern. Pengetahuan lokal harus diberikan ruang yang adil di samping rasionalitas modern sebagai bagian integral dari kemajuan peradaban bangsa yang utuh. Dengan demikian, Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan dapat bertransformasi menjadi energi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis pada kearifan lokal.
Nasionalisme Inklusif dan Kontribusi Perguruan Tinggi ITB
Seirama dengan pandangan tersebut, Prof. Bambang Purwanto memberikan ulasan mendalam mengenai dinamika nasionalisme Indonesia yang menuntut sifat inklusif serta reflektif. Beliau menekankan pentingnya melakukan evaluasi rutin terhadap praktik kebangsaan agar tidak hanya sekadar mengulangi atau mereproduksi warisan struktur masa lalu yang tidak lagi relevan. Strategi ini sangat krusial guna menjaga integritas bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kencang merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Merujuk pada pemikiran Bapak Proklamator Mohammad Hatta, Prof. Bambang menjelaskan perbedaan signifikan antara makna merdeka dan makna berdaulat secara hakiki. Menurut beliau, kedaulatan yang sejati tidak hanya berhenti pada kemerdekaan secara politik di atas kertas, tetapi juga harus nyata dalam kemandirian bersikap. Kemandirian dalam mengelola seluruh potensi bangsa secara berkelanjutan menjadi tolak ukur keberhasilan kita dalam memaknai Sejarah sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di masa sekarang.
Perguruan tinggi pun memegang peranan strategis bukan hanya sebagai produsen ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang dinamis. Universitas diharapkan tidak sekadar mencetak tenaga profesional yang unggul secara teknis, namun juga mampu membentuk individu yang memiliki etika kuat serta kepekaan sosial tinggi. Melalui penguatan nilai-nilai ini, perguruan tinggi dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga api nasionalisme agar tetap menyala di hati setiap warga negara.
Prof. Bambang juga menegaskan bahwa teknologi dan sains akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar apabila dikembangkan demi kemaslahatan umat manusia secara luas. Daya saing bangsa akan meningkat pesat jika inovasi yang dihasilkan tetap berakar pada konteks kebutuhan nasional serta tidak meninggalkan identitas budaya sendiri. Hal ini sejalan dengan visi besar menjadikan sejarah sebagai instrumen pemersatu yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif masyarakat menuju cita-cita luhur kemerdekaan.
Seminar yang diselenggarakan oleh FGB ITB ini akhirnya ditutup dengan sebuah ajakan kuat untuk membangun historiografi yang lebih bersifat reflektif dan penuh otokritik. Sejarah tidak boleh hanya dipandang sebagai narasi kepahlawanan yang statis, melainkan harus dipahami sebagai sarana pembelajaran kolektif untuk mendewasakan bangsa. Dengan memahami dinamika masa lalu secara jujur, bangsa Indonesia diharapkan memiliki integritas yang lebih kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kompleks di era pasca-modernisme ini.
Kesadaran akan identitas nasional harus terus dipupuk melalui pendidikan sejarah yang kritis dan tidak memihak pada kepentingan sempit. Masyarakat perlu memahami bahwa setiap peristiwa di masa lalu membawa pesan moral yang sangat berharga untuk langkah ke depan. Implementasi nilai sejarah dalam kehidupan sehari-hari akan memperkuat solidaritas sosial di antara warga negara yang beragam.
Upaya yang dilakukan oleh Forum Guru Besar ITB menunjukkan bahwa akademisi memiliki tanggung jawab moral dalam mengawal arah perjalanan bangsa. Diskusi semacam ini sangat diperlukan untuk menyegarkan kembali pemahaman kita tentang arti penting kedaulatan yang sesungguhnya. Harapannya, hasil dari seminar ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan strategis di tingkat nasional.
Masa depan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu mengambil pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan para pendahulu. Kolaborasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemahaman sejarah yang kuat akan menciptakan fondasi negara yang tidak mudah goyah. Kedewasaan bernegara hanya bisa dicapai jika kita berani melihat ke belakang dengan jernih untuk melangkah ke depan dengan pasti.
Penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk mendukung gerakan literasi sejarah yang lebih luas dan menyentuh berbagai lapisan generasi muda. Tanpa pemahaman sejarah yang baik, sebuah bangsa akan kehilangan arah dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar yang merugikan. Mari kita jadikan sejarah sebagai kompas dalam menavigasi tantangan zaman yang terus berubah secara cepat.
Sebagai kesimpulan, forum ilmiah ini berhasil membedah urgensi sejarah dalam memperkokoh jati diri Indonesia di tengah perubahan global yang sangat dinamis. Kedaulatan berpikir dan kemandirian bertindak merupakan kunci utama untuk mencapai kemajuan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat. Sinergi antara dunia akademik dan praktisi politik sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi besar kebangsaan yang inklusif.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v























Tinggalkan Balasan