Serangan Memanas! AS-Israel Bombardir Pelabuhan Iran, IRGC Balas dengan Rudal ke Teluk Tag:
Jakarta, Ekoin.co – Eskalasi konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel kembali meningkat tajam. Pada Minggu (29/3/2026), serangan gabungan dilaporkan menghantam wilayah pelabuhan di Iran yang berada dekat Selat Hormuz.
Kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan serangan tersebut menyasar pelabuhan Bandar Khamir dan menewaskan sedikitnya lima orang serta melukai empat lainnya.
IRNA menyebut serangan itu sebagai aksi “kriminal” yang dilakukan oleh pihak Amerika dan Israel terhadap fasilitas sipil di kawasan pelabuhan strategis tersebut.
Di ibu kota Teheran, serangkaian ledakan keras juga terdengar sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari. Asap dilaporkan terlihat membumbung di beberapa titik, khususnya di wilayah timur laut kota. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai target utama serangan tersebut.
Laporan di lapangan menyebutkan bahwa serangan tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga berdampak pada kawasan sipil. Sejak konflik memanas pada akhir Februari lalu, jumlah korban jiwa dilaporkan mendekati 2.000 orang.
Sebagai balasan, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas industri di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Iran menyebut target tersebut memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan, khususnya sektor industri aluminium yang diklaim mendukung aktivitas pertahanan dan kedirgantaraan.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, IRGC menegaskan serangan itu merupakan respons langsung atas operasi militer yang sebelumnya dilancarkan dari pangkalan-pangkalan di negara Teluk terhadap infrastruktur Iran.
Sejak konflik pecah, kawasan Teluk memang menjadi salah satu titik rawan. Serangan balasan Iran ke negara-negara sekutu Amerika di wilayah tersebut kian memperbesar risiko meluasnya konflik di Timur Tengah.
Situasi ini menandai bahwa perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan cenderung memasuki fase yang semakin berbahaya.






















Tinggalkan Balasan