Sampah Menumpuk di Jakarta Usai Longsor Bantar Gebang, Warga Keluhkan Bau Menyengat

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu titik pembuangan besar seperti Bantar Gebang memiliki risiko tinggi. Diperlukan langkah cepat dan solusi jangka panjang agar krisis sampah di ibu kota tidak semakin memburuk.
Ridwansyah Hasrul Ekoin
Petugas kebersihan mengangkut tumpukan sampah menggunakan truk di kawasan permukiman Jakarta, menyusul berkurangnya pengiriman ke TPST Bantar Gebang akibat longsor.

Jakarta, Ekoin.co – Longsor yang terjadi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang berdampak luas terhadap sistem pengangkutan sampah di Jakarta. Volume sampah yang dikirim ke lokasi tersebut menurun drastis, sehingga memicu penumpukan di sejumlah titik penampungan sementara.

Di Jakarta Pusat, tumpukan sampah terlihat di kawasan Jalan Pintu Air, Pasar Baru, hingga kolong rel Stasiun Juanda. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain seperti Pasar Kramat Jati dan TPST Rawadas di Jakarta Timur, kawasan Kalideres dan Tambora di Jakarta Barat, serta Papanggo, Tanjung Priok di Jakarta Utara.

Warga mulai merasakan dampak langsung dari kondisi ini. Cristian, warga Kelapa Dua Wetan, Ciracas, mengaku heran dengan perubahan jadwal pengangkutan sampah di lingkungannya.

“Biasanya diangkut dua kali sehari, sekarang cuma sekali. Jadi sampah menumpuk dan bau,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera menemukan solusi agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, Slamet Riyadi, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal pihaknya mengirim sekitar 170 truk sampah per hari ke Bantar Gebang. Namun pasca longsor, jumlah tersebut turun menjadi hanya 110 truk.

“Kami minta masyarakat bisa memahami kondisi ini dan ikut berkontribusi, salah satunya dengan memilah sampah dari rumah,” ujarnya.

Menurutnya, pemilahan sampah organik dan non-organik tidak hanya membantu mengurangi beban TPST, tetapi juga memberi nilai ekonomis bagi warga, khususnya dari sampah plastik yang bisa didaur ulang.

Sementara itu, Camat Cempaka Putih, Muhammad Igan, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan RT dan RW untuk aktif menyosialisasikan kondisi tersebut kepada masyarakat.

Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menghadapi persoalan sampah, dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga.

“Kalau kita bisa mulai dari hal kecil, seperti memilah sampah, dampaknya akan besar untuk lingkungan,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu titik pembuangan besar seperti Bantar Gebang memiliki risiko tinggi. Diperlukan langkah cepat dan solusi jangka panjang agar krisis sampah di ibu kota tidak semakin memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini