Jakarta EKOIN.CO – Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang telah berlangsung sejak awal 2022 kini dikabarkan meluas hingga ke kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Direktorat Intelijen Utama Ukraina (DIU), pemerintah Rusia disebut tengah menjajaki dukungan dari negara Asia lainnya, yakni Laos.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari NK News, Rabu (9/7/2025), DIU menyebut bahwa Kremlin berupaya menarik Laos agar mengirim personel militer ke wilayah Kursk. Pengerahan ini dikemas sebagai misi kemanusiaan berupa operasi pembersihan ranjau di perbatasan Rusia–Ukraina.
“Negara terbaru yang Rusia coba seret ke dalam perang adalah Laos,” demikian pernyataan tertulis DIU yang diunggah pada Sabtu lalu di situs resminya. Langkah ini diperkirakan sebagai upaya menggantikan kekurangan personel tempur yang dihadapi Rusia sejak beberapa bulan terakhir.
Dukungan Militer Asia untuk Rusia Meningkat
DIU mengklaim bahwa hingga 50 insinyur militer dari Tentara Rakyat Laos tengah disiapkan untuk dikirim ke Kursk. Mereka akan bergabung dalam operasi pembersihan ranjau yang disebut sebagai misi non-tempur, meskipun diyakini menjadi bagian dari strategi militer Rusia.
“Pengerahan ini dibungkus sebagai proyek kemanusiaan untuk menutupi keterlibatan militer asing dalam perang,” tulis DIU lebih lanjut. Strategi tersebut dinilai sebagai bagian dari taktik Rusia dalam memperkuat pasukan dengan cara yang tidak mencolok di mata internasional.
Selain pengerahan insinyur, Rusia juga disebut sedang dalam tahap negosiasi lanjutan dengan pemerintah Laos agar bersedia menyediakan fasilitas rehabilitasi medis bagi tentara Rusia yang terluka. Layanan ini dirancang untuk meringankan beban sistem kesehatan militer Rusia yang kewalahan.
Seiring meningkatnya tekanan di garis depan, Rusia terus mencari sumber daya dan dukungan eksternal dari sekutu baru. Situasi ini juga memunculkan kekhawatiran akan semakin luasnya lingkup konflik di luar batas geografis Eropa Timur.
Korea Utara Jadi Pelopor Keterlibatan Militer Asia
Sebelumnya, Korea Utara telah lebih dahulu mengirimkan kontingen militer ke Kursk. Sekitar 12.000 personel telah dikerahkan oleh Pyongyang yang terdiri dari pasukan penjinak ranjau dan tenaga konstruksi, menandai bentuk dukungan militer langsung terhadap Rusia.
Tak hanya itu, pada bulan lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga memerintahkan tambahan 6.000 personel ke wilayah konflik. Hal ini mempertegas keterlibatan aktif negara-negara Asia dalam memperkuat barisan pasukan Kremlin.
Kehadiran militer asing di Kursk, baik dari Korea Utara maupun yang diprediksi dari Laos, dinilai akan meningkatkan kapasitas Rusia dalam menghadapi pasukan Ukraina. Para analis menyatakan bahwa hal ini akan mengubah dinamika medan tempur secara signifikan.
Laporan dari intelijen Ukraina memproyeksikan adanya gelombang serangan baru dari pihak Rusia yang akan dimulai menjelang musim gugur. Serangan tersebut kemungkinan besar akan mengandalkan tambahan dukungan personel dari luar negeri.
Dengan bertambahnya kekuatan militer di garis depan, wilayah timur Ukraina diperkirakan akan menjadi fokus utama operasi besar-besaran dalam beberapa bulan ke depan. Kursk, sebagai titik strategis, kini menjadi pusat konsentrasi militer asing pendukung Rusia.
Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Laos mengenai laporan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Kremlin pun belum mengonfirmasi keterlibatan Laos secara langsung dalam perang Ukraina.
Jika keterlibatan Laos benar terjadi, maka akan menjadi preseden baru bagi kawasan Asia Tenggara yang selama ini relatif netral terhadap konflik Rusia–Ukraina. Perluasan konflik ini pun menimbulkan kekhawatiran akan efek domino terhadap negara-negara tetangga.
Para pengamat menilai bahwa Rusia sengaja menarget negara-negara Asia dengan sistem politik yang lebih dekat atau netral terhadap Moskow untuk menghindari tekanan dari negara Barat. Laos, dengan hubungan tradisional yang cukup dekat, menjadi target strategis Kremlin.
Kemungkinan pengerahan pasukan dari Asia Tenggara juga dapat menimbulkan ketegangan diplomatik, khususnya di kawasan ASEAN. Dukungan militer dari negara anggota ASEAN kepada salah satu pihak bertikai dinilai dapat memengaruhi posisi politik regional.
Jika keterlibatan ini berlanjut, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor, termasuk hubungan ekonomi, keamanan regional, hingga pengaruh geopolitik global. Dalam konteks ini, keberadaan militer asing di Kursk menjadi simbol pergeseran dukungan yang tidak lagi terbatas dari Eropa.
Meskipun dikemas dalam bentuk kemanusiaan, pembersihan ranjau dan rehabilitasi prajurit tetap menjadi bagian dari proses militerisasi wilayah konflik. Langkah tersebut berpotensi memperpanjang eskalasi perang dan menambah korban.
Laos sendiri selama ini tidak dikenal aktif dalam misi militer luar negeri. Oleh karena itu, jika benar mengirim personel ke Rusia, ini akan menjadi langkah langka yang dapat mengubah posisi politik luar negeri negara tersebut.
Keterlibatan Laos juga akan memperlihatkan sejauh mana pengaruh Rusia menjangkau negara-negara berkembang, khususnya dalam menggalang dukungan non-konfrontatif untuk agenda militernya.
Pada akhirnya, perang yang awalnya bersifat regional antara Rusia dan Ukraina kini perlahan berubah menjadi arena pertempuran dengan dimensi global. Dukungan dari negara-negara Asia menjadi indikator perluasan skala konflik tersebut.
Untuk saat ini, dunia internasional masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak Laos dan Rusia atas laporan ini. Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah konflik dan kebijakan luar negeri negara-negara terlibat.
Langkah Rusia dalam mencari bantuan dari Asia Tenggara merupakan strategi diversifikasi sekutu yang potensial. Namun, jika tidak direspons secara diplomatik, keterlibatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi konflik yang lebih luas.
Konflik berkepanjangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, tetapi juga ketidakpastian global. Oleh sebab itu, pengawasan dari komunitas internasional sangat penting untuk mencegah meluasnya eskalasi.
Diperlukan tekanan dari organisasi regional dan global agar pihak-pihak yang terlibat tidak melibatkan lebih banyak negara dalam konflik bersenjata. Diplomasi harus dikedepankan demi mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Peran netral dan mediasi dari organisasi internasional seperti PBB dan ASEAN menjadi krusial dalam meredam konflik ini. Ketegasan terhadap penyalahgunaan misi kemanusiaan untuk tujuan militer harus ditegakkan.
Solusi jangka panjang dari konflik ini hanya bisa dicapai melalui dialog dan kompromi. Keterlibatan lebih banyak negara dalam jalur militer justru akan memperparah ketegangan dan memperpanjang penderitaan warga sipil.
yang dapat diambil adalah memperkuat mekanisme pemantauan terhadap aktivitas militer di luar negeri oleh negara-negara ASEAN, guna menghindari pelibatan tak langsung dalam konflik besar.
Langkah selanjutnya adalah memperjelas batas antara dukungan kemanusiaan dan partisipasi militer, terutama dalam kasus pembersihan ranjau yang sensitif terhadap persepsi publik.
Kawasan Asia Tenggara perlu menjaga netralitas dan mendorong pendekatan damai terhadap konflik internasional agar tidak menjadi bagian dari konfrontasi global.
Pemerintah Laos sebaiknya mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap stabilitas nasional dan hubungan internasional sebelum mengambil keputusan terkait partisipasi di luar negeri.
Komunitas internasional juga diharapkan mendorong diplomasi aktif untuk menghentikan ekspansi konflik dan menghindari ketegangan antarnegara di wilayah yang sebelumnya aman dari dampak perang. (*)





