GAZA CITY, EKOIN.CO – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan mengambil alih Kota Gaza sepenuhnya, namun membiarkan penduduknya pergi jika mereka menginginkannya. Ia menyatakan, langkah itu bukan bentuk pengusiran paksa, melainkan memberi kesempatan bagi warga meninggalkan zona pertempuran.
Gabung WA Channel EKOIN di sini
Netanyahu mengungkapkan kebijakan tersebut terinspirasi dari situasi konflik di Suriah, Ukraina, dan Afghanistan. Dalam kasus-kasus itu, penduduk tetap diberi opsi tinggal atau keluar saat serangan berlangsung.
“Beri mereka kesempatan untuk meninggalkan, pertama-tama, zona pertempuran, dan secara umum untuk meninggalkan wilayah itu, jika mereka mau,” ujarnya dalam wawancara dengan penyiar Israel i24NEWS, dikutip dari AFP, Rabu (13/8/2025).
Netanyahu dan Kontrol Perbatasan Gaza
Di wilayah Gaza, Israel telah lama menerapkan kontrol ketat, termasuk pembatasan di perbatasan dan dalam kota. Kebijakan ini mencakup larangan keluar-masuk bagi warga Palestina, yang oleh banyak pihak dinilai mengekang hak asasi manusia.
Bagi masyarakat Palestina, kebijakan ini dianggap sebagai upaya pengusiran dari tanah kelahiran mereka. Mereka menyamakannya dengan peristiwa “Nakba” pada 1948, yakni pengungsian massal saat pembentukan negara Israel.
Sebelum rencana Netanyahu mengerahkan kembali militer di Gaza dengan dalih memerangi Hamas, situasi di wilayah itu sudah memanas akibat blokade berkepanjangan. Banyak organisasi kemanusiaan memperingatkan, operasi baru akan memperburuk krisis kemanusiaan.
Kontroversi Usulan Trump Terkait Gaza
Awal 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kehebohan global setelah secara terbuka menyarankan agar Gaza diambil alih dan 2,4 juta penduduknya dipindahkan ke Mesir atau Yordania. Usulan ini langsung memicu gelombang penolakan dari berbagai negara dan lembaga internasional.
Rencana tersebut dinilai tidak realistis dan berpotensi melanggar hukum internasional terkait perlindungan penduduk sipil di wilayah konflik. Mesir dan Yordania pun secara tegas menolak menjadi tujuan relokasi paksa warga Gaza.
Netanyahu tidak secara langsung menanggapi usulan Trump, tetapi langkahnya mengambil alih Gaza dipandang sebagian pihak sebagai implementasi terselubung dari gagasan tersebut. Beberapa pengamat menilai kebijakan ini mengaburkan batas antara strategi militer dan rekayasa demografi.
Organisasi hak asasi manusia mengingatkan, setiap upaya mendorong penduduk keluar dari Gaza secara sistematis dapat dikategorikan sebagai deportasi paksa, yang termasuk pelanggaran berat hukum humaniter.
Di sisi lain, Netanyahu bersikeras operasi ini hanya untuk menumpas Hamas dan menjamin keamanan Israel. “Ini bukan soal etnis atau agama. Ini soal melindungi rakyat kami,” kata Netanyahu.
Sejumlah analis menilai, langkah Israel di Gaza juga terkait dinamika politik dalam negeri. Dukungan terhadap Netanyahu di Israel mengalami penurunan, dan operasi militer kerap digunakan sebagai strategi untuk memulihkan citra politik.
Di lapangan, situasi Gaza semakin tegang. Warga menghadapi kesulitan akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan ribuan warga mulai mencari jalur aman menuju selatan, meski sebagian besar tidak memiliki tempat tujuan.
Para pemimpin negara-negara Arab menyerukan penghentian operasi dan memulai perundingan damai. Namun, prospek dialog masih redup di tengah retorika keras dari kedua pihak.
Konflik di Gaza kembali menjadi pusat perhatian dunia, memicu gelombang solidaritas internasional bagi warga Palestina. Meski begitu, tanpa komitmen politik yang kuat, krisis ini diprediksi akan terus berlarut.
Langkah Israel mengambil alih Gaza dengan membiarkan warga pergi memicu pro-kontra internasional. Pernyataan Netanyahu bahwa kebijakan ini bukan pengusiran tak cukup meredakan kekhawatiran akan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia.
Diperlukan intervensi diplomatik segera untuk mencegah eskalasi dan memastikan perlindungan warga sipil di Gaza. Tanpa itu, penderitaan warga akan semakin berat, dan krisis kemanusiaan tak terelakkan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





