Jakarta, ekoin.co – Pemerintah berencana menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai tahun 2026.
Kebijakan tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Penghentian impor solar ditargetkan berlaku pada 2026, seiring rampungnya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan beroperasi penuh mulai November 2025.
Pasokan solar nasional akan ditopang dari kilang Pertamina RDMP Balikpapan di Kalimantan Timur.
Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta memaksimalkan produksi dalam negeri yang dikombinasikan dengan peningkatan bauran biodiesel hingga B50.
Bahlil menjelaskan, penghentian impor solar bergantung pada kesiapan operasional kilang RDMP Balikpapan. Apabila kilang beroperasi sesuai jadwal, kebutuhan solar nasional dapat dipenuhi tanpa impor.
Namun, pemerintah masih membuka peluang impor terbatas jika terjadi keterlambatan operasional pada awal tahun.
“Jika kilang baru beroperasi pada Maret, kemungkinan Januari dan Februari masih ada impor dalam jumlah kecil. Akan tetapi, apabila sudah berjalan sejak Januari, maka impor tidak diperlukan lagi,” ujar Bahlil dalam keterangan beberapa waktu lalu.
Selain menjamin ketersediaan pasokan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas solar. Bahlil menegaskan peningkatan mutu BBM akan terus dilakukan secara bertahap.
Sebelumnya diketahui, Bahlil menyatakan pemerintah optimistis tidak lagi mengimpor solar pada 2026.
Ia menilai kombinasi beroperasinya RDMP Balikpapan dan penerapan kebijakan biodiesel B50 berpotensi menciptakan kelebihan pasokan solar nasional, bahkan membuka peluang ekspor.
Ia memastikan proyek RDMP Balikpapan tetap berjalan sesuai rencana dan dijadwalkan diresmikan pada 10 November.
Pemerintah pun berkomitmen menyelesaikan seluruh program energi tersebut demi mendukung kemandirian dan ketahanan energi Indonesia. (*)





