Amerika Serikat, ekoin.co – Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa meningkat setelah Gedung Putih menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi salah satu opsi dalam upaya mengambil alih Greenland, wilayah otonom Kerajaan Denmark di kawasan Arktik.
Pernyataan tersebut disampaikan Gedung Putih pada Selasa (6/1/2026), menyusul mencuatnya kembali keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membawa Greenland ke bawah kendali Washington.
Pemerintah AS menilai wilayah itu memiliki nilai strategis bagi kepentingan keamanan nasional Amerika di kawasan Arktik
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan Presiden Trump dan timnya tengah membahas berbagai skema untuk mencapai tujuan tersebut.
Ia menegaskan bahwa opsi militer tidak dikesampingkan, meski jalur diplomasi tetap disebut sebagai pilihan utama.
“Presiden Trump telah menegaskan bahwa akuisisi Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat. Presiden dan timnya sedang mendiskusikan berbagai opsi, dan penggunaan militer AS selalu menjadi salah satu opsi yang berada dalam kewenangan panglima tertinggi,” ujar Leavitt dalam pernyataannya, yang dikutip Rabu (7/1).
Pemerintah Greenland dan Denmark merespons dengan menyerukan dialog segera bersama Amerika Serikat. Kedua pihak menyatakan bahwa Greenland merupakan wilayah semi-otonom dalam Kerajaan Denmark dan setiap keputusan terkait masa depannya harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.
Presiden Trump kembali menyoroti Greenland karena letaknya yang strategis dan kekayaan sumber daya alamnya.
Berdasarkan survei yang dirujuk Reuters pada 2023, sebanyak 25 dari 34 mineral kritis yang dibutuhkan Uni Eropa ditemukan di Greenland, termasuk logam tanah jarang, grafit, tembaga, nikel, emas, titanium, dan uranium.
Selain faktor ekonomi, Trump juga menyebut meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik sebagai alasan utama ketertarikan Amerika terhadap Greenland.
Menurut Trump, kehadiran kapal-kapal dari kedua negara tersebut berpotensi mengancam kepentingan keamanan AS.
Sementara itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengecam keras wacana pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa tindakan militer terhadap wilayah Denmark akan berdampak serius terhadap aliansi pertahanan NATO.
“Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka itu berarti akhir dari NATO dan keamanan yang telah dibangun sejak Perang Dunia Kedua,” kata Frederiksen kepada stasiun televisi TV2 Denmark, Senin (5/1) waktu setempat.
Frederiksen juga menegaskan bahwa pernyataan Presiden Trump harus dianggap serius dan Denmark tidak akan menerima ancaman terhadap kedaulatan Greenland.
Pernyataan serupa disampaikan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, yang menolak segala bentuk pengambilalihan oleh negara lain.
Sejumlah pemimpin Eropa menyatakan solidaritas terhadap Denmark dan Greenland. Para pejabat Uni Eropa menegaskan bahwa masa depan Greenland hanya dapat ditentukan oleh Greenland dan Denmark, serta menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan persatuan NATO.
Isu Greenland ini mencuat di tengah meningkatnya perhatian global terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk operasi militer AS di Venezuela yang sebelumnya juga memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa. (*)





