Jakarta, ekoin.co – Harga emas dan perak global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (7/1/2026) seiring aksi ambil untung investor setelah reli harga dalam beberapa sesi sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia ditutup melemah 0,98% ke level US$ 4.452,77 per troy ons. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan Selasa emas sempat menguat lebih dari 1%.
Penurunan harga emas terjadi akibat aksi jual besar-besaran oleh pelaku pasar yang merealisasikan keuntungan setelah kenaikan harga terbaru. Kondisi tersebut sejalan dengan laporan Reuters yang menyebut investor mulai melakukan profit booking menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger mengatakan koreksi harga dipicu oleh aksi ambil untung secara luas.
“Kami melihat penurunan hari ini sebagai aksi ambil untung secara umum setelah lonjakan harga sebelumnya,”
Meski demikian, tekanan harga emas sempat mereda setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve.
Data JOLTs menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 303.000 menjadi 7,146 juta pada November 2025, level terendah sejak September 2024 dan berada di bawah ekspektasi pasar.
Penurunan terjadi di sejumlah sektor, termasuk akomodasi dan layanan makanan, transportasi, serta perdagangan grosir.
Selain itu, laporan ADP mencatat pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta pada Desember 2025 lebih rendah dari proyeksi pasar. Kondisi ini mendorong pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar sekitar 61 basis poin sepanjang 2026.
Pada perdagangan Kamis (8/1/2026) pagi pukul 06.28 WIB, harga emas terpantau sedikit menguat 0,2% ke posisi US$ 4.461,75 per troy ons.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik juga masih membayangi pasar, termasuk perkembangan situasi di Venezuela serta pembahasan kebijakan luar negeri AS.
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral China tetap kuat setelah otoritas moneter negara tersebut mencatatkan pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember 2025.
Sementara itu, harga perak mengalami penurunan lebih dalam dibandingkan emas. Data Refinitiv menunjukkan harga perak anjlok 3,85% dan ditutup di level US$ 78,15 per troy ons pada Rabu (7/1/2026), berbalik arah dari lonjakan 6,2% pada perdagangan sebelumnya.
Pada Kamis pagi, harga perak bergerak menguat 0,6% ke posisi US$ 78,62 per troy ons.
Sejumlah lembaga keuangan mencermati volatilitas harga perak ke depan. HSBC menaikkan proyeksi harga rata-rata perak 2026 menjadi US$ 68,25 per troy ons, namun mengingatkan potensi fluktuasi seiring ketatnya pasokan.
Goldman Sachs juga menilai persediaan perak di London yang terbatas berpotensi memicu pergerakan harga tajam akibat dinamika pasar jangka pendek.
Pergerakan harga emas dan perak selanjutnya akan dipengaruhi rilis laporan non-farm payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat, yang menjadi indikator utama arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. (*)





