Jakarta, ekoin.co – Media Inggris Daily Mail melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC) untuk menyusun rencana pengambilalihan Greenland.
Laporan tersebut terbit pada Minggu (11/1) dan menyebut perintah itu disampaikan di tengah kembali menguatnya minat Trump terhadap Greenland.
Menurut laporan Daily Mail, perintah penyusunan rencana tersebut muncul setelah operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026.
Trump disebut menilai penguasaan Greenland penting bagi kepentingan dan keamanan nasional AS, serta ingin bertindak sebelum Rusia dan China memperluas pengaruhnya di kawasan Arktik.
Namun, sejumlah pejabat militer AS yang dikutip media tersebut menyatakan keberatan.
Mereka menilai rencana invasi ke wilayah otonom Denmark itu ilegal dan tidak akan memperoleh dukungan Kongres. Para pejabat itu disebut mengarahkan pembahasan ke opsi lain yang dinilai tidak terlalu kontroversial, termasuk operasi penegakan sanksi maritim terhadap jaringan kapal Rusia.
Sementara itu, sejumlah diplomat Eropa mengatakan kepada Daily Mail bahwa wacana pengambilalihan Greenland dinilai berpotensi berdampak pada hubungan Amerika Serikat dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Para diplomat tersebut menyebut langkah terhadap Greenland—yang berada dalam Kerajaan Denmark, anggota NATO—dapat memicu ketegangan serius di aliansi.
Pemerintah Denmark dan para pemimpin Greenland menyatakan penolakan atas wacana tersebut.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark dan setiap langkah yang menyentuh kedaulatan wilayah anggota NATO akan berdampak luas terhadap kerja sama aliansi.
Pemimpin Greenland juga menegaskan sikap tidak ingin menjadi objek perebutan kekuatan mana pun. Mereka menyatakan masa depan Greenland ditentukan oleh rakyatnya sendiri dan menolak rencana pengambilalihan oleh negara lain .
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan Daily Mail mengenai perintah penyusunan rencana invasi tersebut.
Laporan serupa juga disampaikan oleh Anadolu Agency yang mengutip sumber media Inggris dan pejabat terkait, dengan menekankan adanya penolakan dari kalangan militer AS dan kecaman dari pihak Eropa. (*)





