Jakarta, Ekoin.co — Di tengah kebutuhan konektivitas antardaerah yang terus meningkat, ATR 42-500 masih menjadi salah satu armada andalan penerbangan regional, meski lini produksinya telah dihentikan.
Pesawat turboprop ini dikenal irit bahan bakar, fleksibel di berbagai bandara kecil, serta memiliki struktur biaya yang relatif rendah bagi operator.
Dari sisi akuisisi, nilai pesawat sangat bergantung pada usia dan jam terbang. Untuk unit baru pada masanya, harga ATR 42-500 berada di kisaran US$12 juta atau sekitar Rp202,9 miliar.
Namun di pasar sekunder, harga rata-ratanya jauh lebih terjangkau, yakni sekitar US$4,5 juta atau setara Rp76 miliar.
Skema pembiayaan pun dinilai ramah bagi maskapai regional. Dengan pinjaman US$2,25 juta selama 10 tahun, estimasi cicilan bulanan berada di kisaran US$112.823, termasuk bunga.
Daya tarik utama ATR 42-500 terletak pada efisiensi operasional. Dengan asumsi 450 jam terbang per tahun dan harga avtur US$6 per liter, total biaya operasi tahunan diperkirakan sekitar US$2,19 juta. Rinciannya, biaya variabel mencapai US$1,58 juta, sementara biaya tetap sekitar US$605.996.
Dengan demikian, biaya per jam terbang hanya berada di kisaran US$4.874, angka yang tergolong kompetitif di segmen pesawat regional.
Secara teknis, ATR 42-500 mampu mengangkut hingga 46 penumpang, memiliki kecepatan jelajah sekitar 300 knot, ketinggian maksimum 25.000 kaki, dan jarak tempuh hingga 4.280 kilometer.
Kemampuannya beroperasi di landasan pendek menjadikannya cocok untuk wilayah dengan infrastruktur bandara terbatas.
Kombinasi harga perolehan yang rasional dan biaya operasi yang efisien menjadikan ATR 42-500 tetap relevan sebagai aset bisnis penerbangan domestik dan charter, khususnya pada rute jarak pendek hingga menengah.





