Bogor, Ekoin.co – Lembaga pemasyarakatan kini tidak hanya menjadi ruang pembinaan administratif, tetapi juga wadah tumbuhnya kreativitas bernilai ekonomi.
Hal tersebut tercermin dari lahirnya karya musik hasil kolaborasi Zul Zivilia, Warga Binaan Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, bersama Putri Ajeng, Warga Binaan Lapas Kelas IIA Tangerang yang dikenal sebagai mantan personel grup vokal 7Icons.
Kolaborasi lintas lembaga pemasyarakatan ini menghasilkan sebuah lagu berjudul “Sabar-Sabar Ade” yang resmi dirilis di bawah label Kartamala.
Peluncuran karya tersebut dilakukan langsung dari Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur pada Rabu (21/1).
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) menyebut karya ini sebagai bagian dari pola pembinaan yang diarahkan pada pengembangan industri kreatif, sekaligus mendorong kemandirian Warga Binaan setelah menyelesaikan masa pidana.
Direktur Teknologi dan Kerja Sama Ditjenpas, Maullidi Hilal, mengatakan bahwa pembinaan berbasis seni dan ekonomi kreatif memberi ruang bagi Warga Binaan untuk tetap produktif dan menyiapkan masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, kesempatan berkarya tidak bersifat eksklusif. Program serupa terbuka bagi seluruh Warga Binaan yang memiliki minat dan bakat, sebagaimana telah berjalan di sejumlah lapas lain, mulai dari komunitas hip hop di Papua hingga Antrabez Band dari Lapas Kerobokan, Bali.
Lagu “Sabar-Sabar Ade” mengangkat kisah tentang sepasang kekasih yang harus menunda pernikahan dan belajar bersabar demi masa depan rumah tangga.
Cerita tersebut disajikan secara sederhana, namun mengandung pesan reflektif tentang keteguhan dan harapan.
Proses produksi dilakukan di studio musik milik Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur dengan sistem hybrid recording.
Kolaborasi antarlapas tetap dijalankan dengan memperhatikan aspek keamanan dan ketentuan yang berlaku.
Kepala Lapas Khusus Gunung Sindur, Wahyu Indarto, memastikan seluruh tahapan pembuatan lagu berlangsung sesuai prosedur dan pengawasan.
Ia menjelaskan, pengerjaan lagu dilakukan sejak November 2025 hingga Januari 2026 sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian yang dijalankan Ditjenpas.
Ruang berekspresi semacam ini dinilai penting untuk menjaga semangat, kreativitas, dan produktivitas Warga Binaan.
Bagi Zul Zivilia, karya tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas tetap bisa hidup di tengah keterbatasan.
Ia mengaku padatnya aktivitas pembinaan justru mendorongnya untuk terus berkarya, termasuk menciptakan puluhan lagu selama menjalani masa pidana.
Sementara itu, Putri Ajeng menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan, karena tetap dapat mengembangkan bakat musik selama mengikuti program pembinaan di Lapas Kelas IIA Tangerang.
Peluncuran lagu ini turut disaksikan Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang serta jajaran pejabat pembinaan wilayah Banten dan Jawa Barat.
Menutup rangkaian kegiatan, Ditjenpas menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembinaan yang adaptif dan berbasis kreativitas, sebagai bekal Warga Binaan dalam membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.





