Iran Tutup Pintu Negosiasi Nuklir dengan AS, Teheran: Dua Kali Dikhianati Sudah Cukup

Ketika ditanya apakah Mojtaba Khamenei membuka kemungkinan negosiasi atau gencatan senjata dengan Amerika Serikat, Araghchi menolak memberikan komentar lebih jauh.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan pernyataan terkait sikap Teheran yang menutup kemungkinan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat setelah konflik militer dengan Israel dan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Jakarta, Ekoin.co – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan lagi membuka jalur negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat setelah serangkaian konflik militer dan serangan yang menargetkan fasilitas strategis Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pengalaman pahit selama proses diplomasi dengan Washington membuat pemerintah Iran tidak lagi mempertimbangkan dialog nuklir dengan Amerika.

Dalam wawancara dengan PBS News pada Senin (9/3/2026), Araghchi mengatakan Iran merasa telah dikhianati dua kali oleh Amerika Serikat.

“Anda tahu, kami memiliki pengalaman amat pahit dalam berbicara dengan Amerika,” kata Araghchi seperti dikutip Anadolu Agency.

“Jadi saya rasa berbicara dengan orang Amerika lagi tidak akan ada dalam agenda kami,” tegasnya.

Pernyataan tersebut merujuk pada konflik 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Saat itu, Iran sebenarnya tengah menjalani proses negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Namun setelah perang meletus, Washington justru bergabung dengan Israel dalam serangan militer yang menghantam sejumlah fasilitas nuklir Iran.

Situasi kembali memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Pasca peristiwa tersebut, Iran kemudian menunjuk pemimpin tertinggi baru, yakni Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra dari Ali Khamenei.

Ketika ditanya apakah Mojtaba Khamenei membuka kemungkinan negosiasi atau gencatan senjata dengan Amerika Serikat, Araghchi menolak memberikan komentar lebih jauh.

Menurutnya, masih terlalu dini bagi pemimpin baru Iran untuk menyampaikan posisi resmi terkait isu diplomasi tersebut. Namun ia mengisyaratkan bahwa pengalaman pahit yang dialami keluarga Mojtaba dalam serangan militer membuat kemungkinan dialog dengan Washington semakin kecil.

Selain menewaskan Ali Khamenei, serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah anggota keluarga Mojtaba, termasuk ibu, istri, anak, dan saudarinya.

Dalam wawancara itu, Araghchi juga menanggapi isu krisis energi global yang dipicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Ia menegaskan Iran tidak menutup jalur tersebut, namun kondisi keamanan kawasan membuat kapal tanker dan kapal dagang enggan melintas.

“Produksi dan transportasi minyak tersendat karena serangan dan agresi yang dilakukan Israel dan Amerika terhadap kami,” ujarnya.

Araghchi menilai aksi militer Washington dan Tel Aviv telah membuat kawasan Timur Tengah menjadi tidak aman sehingga memicu kekhawatiran pasar energi global.

Ia juga kembali menegaskan bahwa serangan balasan Iran terhadap sejumlah target di kawasan merupakan tindakan bela diri.

“Kami sedang menghadapi tindakan agresi yang benar-benar ilegal. Apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri yang legal dan sah,” tegasnya.

Menurut Araghchi, Iran sejak awal telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Teheran akan dibalas dengan menargetkan aset musuh di kawasan, terutama pangkalan militer Amerika Serikat.

“Jika AS menyerang kami, karena kami tidak bisa menjangkau wilayah Amerika, kami akan menyerang pangkalan mereka di kawasan itu,” katanya.

Ia pun memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi meluas di seluruh kawasan Timur Tengah.

“Sebagai akibatnya, perang akan menyebar ke seluruh wilayah. Kami tidak bertanggung jawab soal itu,” ujar Araghchi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini