Konflik Timur Tengah Ancam Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026
Jakarta, Ekoin.co – Eskalasi konflik Timur Tengah bisa mengubah proyeksi pertumbun ekonomi Indonesia. Yang pada 2026 pertumbuhan ekonomi diproyeksi 4,9 hingga 5,8 persen.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah mengatakan, eskalasi konflik Timur Tengah menjadi salah satushock eksternal terbesar bagi ekonomi Indonesia pada 2026. Terutama jika lonjakan harga energi berlangsung dalam periode yang cukup lama.
Di awal tahun 2026, prospek ekonomi Indonesia masih terlihat cukup solid. Prasasti memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,0-5,3 persen, didukung oleh permintaan domestik yang relatif stabil serta mulai membaiknya pertumbuhan kredit.
“Namun jika terjadi lonjakan harga energi berpotensi mengubah dinamika tersebut,” katanya.
Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar global, seiring lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian di jalur perdagangan energi internasional.
Piter menganggap salah satu kerentanan yang paling awal terlihat dalam situasi seperti ini adalah keterbatasan cadangan energi strategis nasional.
Apabila konflik geopolitik terjadi di kawasan yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, lanjutnya, negara-negara pengimpor seperti Indonesia harus lebih waspada. Cadangan energi yang terbatas membuat ruang manuver kebijakan menjadi lebih sempit apabila terjadi gangguan pasokan global.
Cadangan minyak strategis Indonesia diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 23-26 hari, masih jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh International Energy Agency (IEA), yaitu sekitar 90 hari impor bersih.
Dia menambahkan bahwa tekanan energi yang berkepanjangan berpotensi memicu perlambatan konsumsi rumah tangga, serta peningkatan inflasi melalui kenaikan biaya distribusi barang.
Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko arus keluar modal serta memperbesar tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik jika dilihat dalam skenario yang lebih ekstrem.
Pengalaman masa lalu menunjukkan guncangan eksternal dapat mempengaruhi ekonomi domestik dalam waktu relatif singkat, seperti periode krisis keuangan global 2008-2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif namun melambat sekitar 1,4 poin persentase dalam satu tahun.
Selain itu, lonjakan harga minyak turut berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Harga energi lebih tinggi biasanya meningkatkan kebutuhan impor energi, yang dapat memperbesar tekanan terhadap neraca eksternal.
Piter menjelaskan bahwa peningkatan ketidakpastian global juga cenderung mendorong investor internasional mengalihkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman.
Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sering kali mengalami volatilitas yang lebih tinggi dalam situasi seperti ini.
“Ketika harga energi naik dan ketidakpastian global meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah biasanya ikut meningkat. Ini bukan hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika pergerakan modal global,” ungkap Piter.
Kendati demikian, Prasasti menilai kondisi saat ini belum mengarah pada krisis. Fundamental makro ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat dibandingkan dengan beberapa periode. (*)






















Tinggalkan Balasan