Prediksi Bosscha Soal Posisi Hilal Penentu 1 Syawal 1447 H

Ainurrahman Yudi Permana

Bandung, Ekoin.co – Kementerian Agama akan melakukan sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriyah sore ini, Kamis (19/3). Salah satu metode untuk menetapkan 1 Syawal atau hari raya IdulFitri dengan rukyatul hilal atau melihat bulan.

Prediksi Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) posisi hilal penentu 1 Syawal 1447 H berada pada posisi yang sangat rendah dan menantang untuk diamati secara astronomis dari wilayah Indonesia.

Berdasarkan data perhitungan Bosscha, posisi bulan pada 29 Ramadhan 1447 Hijriah tersebut berada sangat dekat dengan matahari saat terbenam. Ketinggian hilal di Indonesia terpantau hanya berkisar antara 0 hingga 3 derajat di atas ufuk, khususnya di wilayah bagian barat.

Karena itu, secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati.

“Keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan transparansi langit,” kata Peneliti Observatorium Bosscha ITB, Yatny Yulianty di Bandung.

Yatny menjelaskan parameter geometri menunjukkan elongasi geosentrik di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6 hingga 6,2 derajat. Jarak sudut pandang pengamat dari permukaan bumi atau elongasi toposentrik berada pada kisaran lebih rendah yakni 4,0 hingga 5,5 derajat.

Guna memverifikasi kondisi batas kriteria visibilitas tersebut, tim astronom Bosscha akan melakukan pengamatan di dua titik strategis yakni di Lembang (Jawa Barat) dan Observatorium Lhok Nga (Aceh).

“Observatorium Lhok Nga dipilih karena posisi Bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan, sehingga pengamatan di lokasi tersebut menjadi penting untuk memverifikasi kondisi batas (constraint),” tutur Yatny yang juga Koordinator Kegiatan Publik Bosscha.

Meskipun menyajikan data ilmiah yang menjadi rujukan nasional, pihak Bosscha menegaskan bahwa kewenangan tunggal penetapan awal bulan Hijriah tetap berada di tangan pemerintah melalui Sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag).

Hasil pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan ini nantinya akan menjadi masukan ilmiah sekaligus memperkaya basis data penelitian jangka panjang mengenai visibilitas hilal di wilayah tropis seperti Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini