Anomali April: Rupiah Bangkit dari Level Terburuk Rp17.041, Pasar Waspadai Ledakan Harga Minyak Brent

Rupiah menguat ke Rp16.982 pada pembukaan April 2026. Simak dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan ancaman Donald Trump terhadap nilai tukar.
Seorang pedagang valuta asing memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat ke level Rp16.982 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (1/4/2026).

Jakarta, Ekoin.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (1/4/2026), dengan proyeksi bergerak di kisaran Rp17.040 hingga Rp17.070 per dolar AS.

Pada penutupan Selasa (31/3/2026), rupiah tercatat melemah 0,23 persen ke level Rp17.041 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru turun tipis 0,06 persen ke posisi 100,45.

Pergerakan mata uang Asia juga menunjukkan tren bervariasi. Yen Jepang dan yuan China menguat, sementara won Korea Selatan, ringgit Malaysia, serta baht Thailand mengalami pelemahan.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi global.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut menjadi faktor utama. Jalur ini diketahui merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Dampaknya, harga minyak Brent melonjak hingga 59 persen sepanjang Maret, sementara WTI naik 58 persen—kenaikan bulanan tertinggi sejak 2020.

Ketegangan semakin meningkat setelah laporan serangan terhadap kapal tanker minyak milik Kuwait di perairan Dubai. Insiden tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Meski demikian, Gedung Putih menyebut jalur diplomasi masih berjalan dan komunikasi dengan Iran tetap berlangsung.

Dari dalam negeri, prospek ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Namun demikian, tekanan global akibat konflik geopolitik masih menjadi risiko utama, terutama terhadap stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.

Pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 09.15 WIB, rupiah justru menunjukkan penguatan awal sebesar 59 poin atau 0,35 persen ke level Rp16.982 per dolar AS. Indeks dolar AS juga melemah ke posisi 99,85.

Mayoritas mata uang Asia turut menguat pada awal sesi, termasuk won Korea Selatan, yuan China, peso Filipina, dan ringgit Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini