WASHINGTON EKOIN.CO – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap energi terbarukan. Dalam pernyataannya, Trump menyebut listrik tenaga angin dan surya sebagai “penipuan” serta memutuskan untuk memotong subsidi energi hijau senilai Rp460 triliun yang sebelumnya diberikan untuk mendukung petani. Gabung WA Channel EKOIN.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial pada Senin (25/8/2025). Ia menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan lagi menyetujui pembangunan turbin angin maupun proyek tenaga surya yang dinilainya merugikan sektor pertanian di AS.
Trump menegaskan, “Kami tidak akan menyetujui tenaga angin atau surya yang bisa merusak petani kita.” Ia bahkan menilai era promosi energi terbarukan sudah selesai di negaranya.
Trump Tolak Subsidi Energi Terbarukan
Langkah memotong subsidi energi hijau Rp460 triliun dianggap sebagai sinyal keras dari Trump dalam menghentikan dukungan pemerintah pada energi terbarukan. Keputusan ini diambil di tengah kritik luas terhadap kebijakan energi pemerintahannya yang cenderung mendukung bahan bakar fosil.
Trump menyebut bahwa tenaga angin maupun tenaga surya adalah “sesuatu yang bodoh”. Menurutnya, teknologi tersebut tidak layak menjadi prioritas dalam kebijakan energi nasional.
Pernyataan ini menjadi lanjutan dari sikap Trump yang sejak lama menolak program energi terbarukan yang diperkenalkan oleh Presiden sebelumnya, Joe Biden. Ia menilai kampanye energi hijau hanyalah propaganda yang merugikan sektor lain.
Trump juga menekankan bahwa di bawah pemerintahannya, pembangunan turbin angin baru di AS tidak akan terjadi. Hal itu mempertegas pergeseran arah kebijakan energi Amerika Serikat menuju pendekatan yang lebih tradisional.
Era Energi Terbarukan Berakhir Menurut Trump
Selain menolak turbin angin, Trump juga meremehkan efektivitas tenaga surya. Ia menyebut teknologi itu tidak bisa dianggap sebagai energi hijau yang murni, melainkan hanya sekadar kampanye politik.
“Era kebodohan sudah berakhir di Amerika,” ujar Trump, menegaskan bahwa kampanye energi terbarukan harus dihentikan.
Kebijakan ini diprediksi akan berdampak besar bagi sektor energi global. AS yang sebelumnya menjadi motor promosi energi hijau di era Biden kini berbalik arah dan memilih meninggalkan tren tersebut.
Trump sendiri kerap menyebut bahwa energi terbarukan tidak sejalan dengan kepentingan nasional, khususnya di bidang pertanian dan industri tradisional.
Para pengamat menilai, keputusan ini berpotensi memicu ketegangan baru dengan negara-negara yang gencar mendorong transisi energi bersih.
Di sisi lain, kritik juga datang dari kalangan aktivis lingkungan. Mereka menilai langkah Trump berisiko memperburuk krisis iklim global dan memperlambat laju transisi energi dunia.
Meski demikian, Trump tetap berpegang pada argumen bahwa kebijakan energi hijau hanyalah beban tambahan bagi masyarakat dan tidak memberikan hasil signifikan bagi Amerika.
Keputusan ini menandai pergeseran besar dalam politik energi AS yang sebelumnya berusaha mengurangi emisi karbon melalui pengembangan energi terbarukan.
Namun, di era Trump, energi fosil kembali diposisikan sebagai tulang punggung ekonomi.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen meninggalkan program energi hijau sepenuhnya, meski risiko lingkungan yang ditimbulkannya semakin besar.
Dengan demikian, masa depan energi terbarukan di Amerika Serikat kini berada di ujung tanduk.
- Kebijakan Trump memutus subsidi Rp460 triliun memperlihatkan arah politik energi AS yang menolak energi terbarukan.
- Pernyataan keras Trump tentang energi angin dan surya menandai berakhirnya dukungan pemerintah terhadap proyek hijau.
- Dampak dari kebijakan ini diprediksi akan memengaruhi tren energi global.
- Kritik muncul dari aktivis lingkungan yang menilai langkah ini mengancam upaya pengendalian perubahan iklim.
- Amerika di bawah Trump lebih memilih mengandalkan energi fosil sebagai tulang punggung ekonomi.
- Pemerintah Amerika sebaiknya tetap membuka ruang bagi pengembangan energi terbarukan.
- Kolaborasi internasional dalam transisi energi hijau tetap penting untuk mengurangi krisis iklim.
- Perlu keseimbangan kebijakan energi antara fosil dan terbarukan agar tidak merugikan sektor ekonomi lain.
- Dukungan pada riset dan inovasi energi hijau dapat memberikan alternatif solusi jangka panjang.
- Dunia internasional diharapkan terus mendorong AS agar tidak meninggalkan tanggung jawabnya dalam isu perubahan iklim.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





