Jakarta EKOIN.CO – Kendaraan taktis berlapis baja Barracuda menjadi salah satu armada andalan Polri dalam pengamanan aksi massa. Dengan bobot mencapai belasan ton, kendaraan ini dilengkapi lapisan baja anti peluru dan mesin bertenaga besar untuk mendukung tugas aparat di lapangan.
Barracuda dirancang untuk melindungi personel dari potensi serangan maupun ancaman saat situasi kerusuhan. Kendaraan ini sering ditempatkan di titik strategis saat demonstrasi untuk menahan pergerakan massa.
Spesifikasi Teknis Barracuda
Data menyebut, Barracuda memiliki bobot antara 12 hingga 14 ton, panjang sekitar 6,4 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 2,8 meter. Mesin diesel bertenaga 290 hingga 320 HP membuatnya mampu melaju hingga 100 kilometer per jam.
Selain itu, kendaraan ini mampu mengangkut 15 hingga 20 personel, termasuk kru di dalamnya. Ban run-flat yang digunakan memungkinkan Barracuda tetap berjalan meski ban kempis. Lapisan baja yang menyelimuti bodinya bisa menahan tembakan senjata laras panjang standar.
Kendaraan ini juga dilengkapi fitur tambahan seperti water cannon, pelontar gas air mata, serta sistem komunikasi taktis untuk memudahkan koordinasi di lapangan. Kehadirannya memberi perlindungan penuh bagi aparat dalam menghadapi kerusuhan berskala besar.
Risiko Jika Melindas Massa
Dengan bobot lebih dari 10 ton, risiko bila Barracuda melintas di atas tubuh manusia sangat besar. Tekanan ban yang mencapai ribuan kilogram per titik tumpu dipastikan menimbulkan cedera fatal hingga kematian seketika.
Para pakar keamanan menyebut, mustahil manusia selamat bila terlindas kendaraan dengan bobot semacam itu. Karena itu, pengoperasian Barracuda di tengah massa selalu disertai prosedur ketat untuk mencegah terjadinya korban.
Meski berfungsi sebagai alat perlindungan, kehadiran Barracuda kerap menimbulkan efek psikologis bagi massa. Bentuknya yang besar dan berlapis baja membuat demonstran berpikir ulang melakukan tindakan anarkis.
Namun, di sisi lain, Barracuda juga bisa memicu ketegangan karena dianggap sebagai simbol kekuatan aparat. Karena itu, Polri biasanya mengombinasikan kendaraan taktis ini dengan pendekatan persuasif agar tidak terjadi eskalasi.
Hingga kini, Barracuda masih menjadi kendaraan strategis yang diandalkan dalam operasi pengamanan. Selain berperan sebagai tameng bergerak, kendaraan ini juga berfungsi sebagai pos komando darurat dan sarana evakuasi aparat.
Para pengamat menilai, pengoperasian Barracuda perlu transparansi agar masyarakat memahami fungsinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga stabilitas keamanan. Dengan begitu, kehadirannya dapat dipandang sebagai pelindung, bukan ancaman.
Ke depan, pelatihan aparat yang intensif diperlukan agar penggunaan Barracuda selalu terukur. Disiplin dalam prosedur serta pengawasan di lapangan menjadi kunci untuk mencegah kesalahan operasional.
Barracuda tetaplah sebuah kendaraan taktis, bukan alat represif. Dengan pemahaman publik yang baik, kendaraan ini diharapkan menjadi simbol perlindungan dalam menjaga ketertiban umum. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





