EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
BI Rilis SULNI, Dunia Tunggu Gejolak Tiga Hari Menentukan Stabilitas Ekonomi Global

BI Rilis SULNI, Dunia Tunggu Gejolak Tiga Hari Menentukan Stabilitas Ekonomi Global

Pasar global bersiap menghadapi 72 jam penuh rilis data ekonomi yang dapat memicu gejolak. Utang luar negeri, konsumsi China, dan data AS menjadi penentu arah stabilitas pasar.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
15 September 2025
Kategori EKOBIS, KEUANGAN
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta EKOIN.CO – Dunia keuangan tengah memasuki 72 jam penuh penantian yang diperkirakan akan membawa gejolak baru di pasar global. Pada Senin (15/9/2025), Bank Indonesia (BI) merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Juli 2025 yang menjadi tolok ukur kesehatan eksternal perekonomian nasional. Sementara itu, China dan Amerika Serikat juga akan mengumumkan data penting terkait konsumsi dan sektor perumahan. Ikuti berita terkini hanya di WA Channel EKOIN.

Data Utang Luar Negeri dan Stabilitas Ekonomi

Rilis SULNI menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pertumbuhan utang luar negeri (ULN), terutama dari sektor swasta, jika meningkat signifikan, dikhawatirkan menambah beban defisit transaksi berjalan dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Sebaliknya, data stabil dipandang sebagai penguat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Pada triwulan II 2025, posisi ULN tercatat sebesar US$433,3 miliar, tumbuh 6,1% secara tahunan (yoy), melambat dari 6,4% yoy di triwulan I. Per Mei 2025, ULN Indonesia naik menjadi US$435,6 miliar, dipengaruhi tren kontraksi utang swasta. Kondisi ini dinilai penting untuk melihat arah kebijakan ekonomi dan kestabilan kurs rupiah.

Penjualan Ritel China Jadi Sorotan

Selain Indonesia, perhatian investor juga tertuju pada rilis data penjualan ritel China periode Agustus yang diumumkan hari ini. Data Juli menunjukkan perlambatan signifikan dengan kenaikan hanya 3,7% yoy, lebih rendah dari ekspektasi 4,6%. Produksi industri pun hanya tumbuh 5,7% yoy, level terendah sejak November 2024.

Investasi aset tetap pada Januari-Juli 2025 tercatat hanya naik 1,6%, lebih rendah dari proyeksi 2,7%. Kontraksi tajam terlihat di sektor properti dengan penurunan 12%. Faktor eksternal seperti ketidakpastian global, serta faktor internal berupa cuaca ekstrem dan kebijakan pembatasan kapasitas produksi, memperburuk performa ekonomi.

Berita Menarik Pilihan

Wajib Senyum, IHSG Sore Ini Melesat 2,52% ke Zona Hijau

Menko AHY Perkuat Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah 2026

Investor global kini menanti apakah perlambatan konsumsi domestik China berlanjut di Agustus. Biro Statistik Nasional China menegaskan lemahnya data dipengaruhi oleh cuaca panas, banjir, dan pengawasan ketat sektor baja serta batu bara.

Data AS dan Potensi Dampaknya

Dari Washington, rilis penjualan ritel Amerika Serikat dijadwalkan Selasa (16/9/2025). Proyeksi menunjukkan kenaikan 0,5% secara bulanan. Angka lebih tinggi dari perkiraan bisa memperkuat dolar AS dan menekan rupiah, sekaligus menunda kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.

Sehari setelahnya, data pembangunan rumah baru AS akan dipublikasikan. Jika hasilnya positif, pasar akan menilai perekonomian AS masih solid, sehingga memberi tekanan tambahan pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Agenda Ekonomi Domestik dan Global

Selain rilis SULNI, sejumlah agenda penting juga digelar di dalam negeri. Di antaranya rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Kapolri, Jaksa Agung, Ketua KPK, serta pejabat lembaga hukum lainnya. Ada pula rapat koordinasi Menko Pangan terkait pengembangan KDKMP, serta rapat Menko Perekonomian membahas paket kebijakan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja.

Agenda internasional meliputi publikasi neraca dagang Uni Eropa, India, serta indeks harga perumahan China. Beberapa emiten juga mengumumkan jadwal RUPS dan dividen.

72 Jam Penentu Pasar Global

Dengan rilis beruntun dari BI, China, dan AS, pasar keuangan global diperkirakan menghadapi volatilitas tinggi. Investor bersiap menghadapi tiga hari penuh penantian dengan fokus pada stabilitas kurs, arah kebijakan moneter, dan kondisi konsumsi domestik di negara besar.

Perkembangan data ekonomi tersebut diyakini menjadi faktor utama dalam menentukan arus modal asing, pergerakan rupiah, serta kepercayaan pasar pada perekonomian nasional dalam jangka pendek.

Dalam tiga hari ke depan, pasar global menghadapi agenda ekonomi padat dari Indonesia, China, dan AS. Data utang luar negeri, konsumsi domestik, hingga pembangunan rumah akan menentukan arah pergerakan.

Pasar finansial Indonesia sangat rentan terhadap perubahan global, sehingga kejelian membaca data menjadi kunci. Investor perlu memperhatikan tren jangka pendek sekaligus menjaga strategi jangka panjang.

Kebijakan moneter BI dan sikap The Fed menjadi variabel utama yang akan memengaruhi kurs rupiah. Stabilitas fundamental ekonomi tetap krusial dalam menjaga daya tahan pasar domestik.

China yang masih bergulat dengan perlambatan konsumsi memberi sinyal bahwa pemulihan global belum sepenuhnya solid. Kondisi ini bisa berdampak pada mitra dagang, termasuk Indonesia.

Ke depan, pemerintah dan regulator diharapkan responsif dalam menjaga stabilitas pasar serta memperkuat fundamental agar tetap tangguh menghadapi gejolak global. ( * )

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v


 

 

Tags: Amerika SerikatChinaekonomipasar globalrupiahutang luar negeri
Post Sebelumnya

Kasus Penipuan CPNS dan Mobil Jazz

Post Selanjutnya

Reshuffle Prabowo Picu Dana Asing Keluar

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Finish di Zona Merah, Sejumlah Faktor Jadi Biang Keladi Pemberat Laju IHSG

Wajib Senyum, IHSG Sore Ini Melesat 2,52% ke Zona Hijau

oleh Ainurrahman
3 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Investor wajib senyum. Perdagangan pasar modal ditutup dengan loncatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 199,87 poin atau...

Presiden Prabowo dan AHY Bahas Sinergi Pemerintah Pusat Daerah. Sumber dok kemenkoinfra.go.id

Menko AHY Perkuat Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah 2026

oleh Agus DJ
3 Februari 2026
0

Bogor, Ekoin.co - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat sinergi...

Menko AHY Dorong IKASTARA Jadi Mitra Strategis Pembangunan. Sumber dok kemenkoinfra.go.id

AHY Ajak IKASTARA Berkolaborasi Bangun Infrastruktur dan Wilayah

oleh Agus DJ
3 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menerima audiensi pengurus Ikatan Alumni SMA...

Morgan Stanley Capital Ogah Ungkap Isi Pertemuan dengan Otoritas Bursa Indonesia, Ada Apa?

Morgan Stanley Capital Ogah Ungkap Isi Pertemuan dengan Otoritas Bursa Indonesia, Ada Apa?

oleh Ainurrahman
3 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Morgan Stanley Capital International atau MSCI enggan membeberkan isi pembicaraan dengan otoritas bursa Indonesia. Pertemuan MSCI dengan...

Post Selanjutnya
Reshuffle Prabowo Picu Dana Asing Keluar

Reshuffle Prabowo Picu Dana Asing Keluar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.