Jakarta EKOIN.CO – Dunia keuangan tengah memasuki 72 jam penuh penantian yang diperkirakan akan membawa gejolak baru di pasar global. Pada Senin (15/9/2025), Bank Indonesia (BI) merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Juli 2025 yang menjadi tolok ukur kesehatan eksternal perekonomian nasional. Sementara itu, China dan Amerika Serikat juga akan mengumumkan data penting terkait konsumsi dan sektor perumahan. Ikuti berita terkini hanya di WA Channel EKOIN.
Data Utang Luar Negeri dan Stabilitas Ekonomi
Rilis SULNI menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pertumbuhan utang luar negeri (ULN), terutama dari sektor swasta, jika meningkat signifikan, dikhawatirkan menambah beban defisit transaksi berjalan dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Sebaliknya, data stabil dipandang sebagai penguat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Pada triwulan II 2025, posisi ULN tercatat sebesar US$433,3 miliar, tumbuh 6,1% secara tahunan (yoy), melambat dari 6,4% yoy di triwulan I. Per Mei 2025, ULN Indonesia naik menjadi US$435,6 miliar, dipengaruhi tren kontraksi utang swasta. Kondisi ini dinilai penting untuk melihat arah kebijakan ekonomi dan kestabilan kurs rupiah.
Penjualan Ritel China Jadi Sorotan
Selain Indonesia, perhatian investor juga tertuju pada rilis data penjualan ritel China periode Agustus yang diumumkan hari ini. Data Juli menunjukkan perlambatan signifikan dengan kenaikan hanya 3,7% yoy, lebih rendah dari ekspektasi 4,6%. Produksi industri pun hanya tumbuh 5,7% yoy, level terendah sejak November 2024.
Investasi aset tetap pada Januari-Juli 2025 tercatat hanya naik 1,6%, lebih rendah dari proyeksi 2,7%. Kontraksi tajam terlihat di sektor properti dengan penurunan 12%. Faktor eksternal seperti ketidakpastian global, serta faktor internal berupa cuaca ekstrem dan kebijakan pembatasan kapasitas produksi, memperburuk performa ekonomi.
Investor global kini menanti apakah perlambatan konsumsi domestik China berlanjut di Agustus. Biro Statistik Nasional China menegaskan lemahnya data dipengaruhi oleh cuaca panas, banjir, dan pengawasan ketat sektor baja serta batu bara.
Data AS dan Potensi Dampaknya
Dari Washington, rilis penjualan ritel Amerika Serikat dijadwalkan Selasa (16/9/2025). Proyeksi menunjukkan kenaikan 0,5% secara bulanan. Angka lebih tinggi dari perkiraan bisa memperkuat dolar AS dan menekan rupiah, sekaligus menunda kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.
Sehari setelahnya, data pembangunan rumah baru AS akan dipublikasikan. Jika hasilnya positif, pasar akan menilai perekonomian AS masih solid, sehingga memberi tekanan tambahan pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Agenda Ekonomi Domestik dan Global
Selain rilis SULNI, sejumlah agenda penting juga digelar di dalam negeri. Di antaranya rapat kerja Komisi III DPR RI bersama Kapolri, Jaksa Agung, Ketua KPK, serta pejabat lembaga hukum lainnya. Ada pula rapat koordinasi Menko Pangan terkait pengembangan KDKMP, serta rapat Menko Perekonomian membahas paket kebijakan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja.
Agenda internasional meliputi publikasi neraca dagang Uni Eropa, India, serta indeks harga perumahan China. Beberapa emiten juga mengumumkan jadwal RUPS dan dividen.
72 Jam Penentu Pasar Global
Dengan rilis beruntun dari BI, China, dan AS, pasar keuangan global diperkirakan menghadapi volatilitas tinggi. Investor bersiap menghadapi tiga hari penuh penantian dengan fokus pada stabilitas kurs, arah kebijakan moneter, dan kondisi konsumsi domestik di negara besar.
Perkembangan data ekonomi tersebut diyakini menjadi faktor utama dalam menentukan arus modal asing, pergerakan rupiah, serta kepercayaan pasar pada perekonomian nasional dalam jangka pendek.
Dalam tiga hari ke depan, pasar global menghadapi agenda ekonomi padat dari Indonesia, China, dan AS. Data utang luar negeri, konsumsi domestik, hingga pembangunan rumah akan menentukan arah pergerakan.
Pasar finansial Indonesia sangat rentan terhadap perubahan global, sehingga kejelian membaca data menjadi kunci. Investor perlu memperhatikan tren jangka pendek sekaligus menjaga strategi jangka panjang.
Kebijakan moneter BI dan sikap The Fed menjadi variabel utama yang akan memengaruhi kurs rupiah. Stabilitas fundamental ekonomi tetap krusial dalam menjaga daya tahan pasar domestik.
China yang masih bergulat dengan perlambatan konsumsi memberi sinyal bahwa pemulihan global belum sepenuhnya solid. Kondisi ini bisa berdampak pada mitra dagang, termasuk Indonesia.
Ke depan, pemerintah dan regulator diharapkan responsif dalam menjaga stabilitas pasar serta memperkuat fundamental agar tetap tangguh menghadapi gejolak global. ( * )
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





