Jakarta, Ekoin.co – Jatuhnya pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) di Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1), membuka kembali tabir keraguan atas kelayakan armada pengawasan udara di Indonesia.
Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), secara terbuka pernah menyentil kondisi pesawat pengawas tersebut yang dinilai sudah “uzur”.
Sentilan tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah akun resmi Ditjen PSDKP pada akhir Desember 2025 lalu.
Dalam video tersebut, Zulhas memberikan catatan serius mengenai usia armada ATR 42-500 yang dioperasikan untuk mendukung tugas kedaulatan laut.
Celetukan ‘Saking Tuanya’
Dalam percakapan santai namun bermakna dalam, muncul sebuah celetukan yang menggambarkan betapa tuanya usia pesawat tersebut, hingga detail tahun produksinya seolah-olah enggan untuk disebutkan secara eksplisit.
Zulhas menekankan bahwa pengawasan di wilayah seluas Indonesia—dari Sabang sampai Merauke—membutuhkan dukungan armada yang andal, bukan pesawat yang “usianya sudah banyak”.
“Karena pesawat yang umurnya sudah banyak, ini bisa mempermudah tugas-tugas kita karena KKP ini kan terdapat di pelosok-pelosok. Jadi Sabang sampai Merauke,” ujar Zulhas dalam video tersebut.
Urgensi Armada untuk 2.000 Kampung Nelayan
Zulhas menegaskan bahwa tantangan utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen PSDKP adalah jangkauan mobilitas.
Peran pesawat ATR sangat krusial untuk mengawasi operasional pelabuhan dan ribuan kampung nelayan.
“Pulau-pulau kita ada 500 kabupaten, tahun depan akan dibangun 2.000 kampung nelayan yang harus kita datangi. Belum pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada, jadi ini sangat membantu,” lanjutnya.
Meski mengakui armada yang ada saat ini “lumayan”, ia secara jujur menyatakan bahwa kapasitas operasi hanya bisa meningkat secara signifikan jika ada pembaruan unit.
Harapan Armada Baru yang Terlambat?
Di hadapan Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, Zulhas sempat menyampaikan harapannya agar ada penambahan satu atau dua unit armada baru pada tahun 2026.
“Kita berharap ada yang baru nih Pak Menteri. Tahun depan semoga ada yang mau kasih kita. Kalau bisa satu atau dua, untuk menunjang kegiatan kita agar lebih hebat lagi,” ucapnya kala itu.
Kini, pasca-tragedi jatuhnya pesawat ATR yang membawa tiga pegawai KKP di Pangkep, harapan akan pembaruan armada bukan lagi sekadar keinginan untuk “tampil hebat”, melainkan menjadi kebutuhan mendesak demi menjamin keselamatan nyawa para petugas negara di garis depan pengawasan laut.





