IHSG Tembus Level 9.075 Saat Dana Asing Banjiri Pasar, Kebijakan Tarif Trump Jadi Bayang-Bayang Global

"Namun, pasar mulai mencermati eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif 10 persen terhadap produk Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen pada Juni mendatang," ungkap Imam dalam keterangannya, Senin (19/1).
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato tentang tarif di Rose Garden di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 2 April 2025. Foto: (REUTERS/Carlos Barria)

Jakarta, Ekoin.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan taringnya dengan performa impresif sepanjang pekan kedua Januari 2026.

Merujuk data perdagangan terbaru, indeks komposit ditutup menguat 1,55 persen ke level psikologis baru 9.075 pada akhir pekan lalu.

Gairah pasar modal domestik ini diperkuat oleh derasnya arus modal masuk dari investor mancanegara. Investor asing tercatat membukukan beli bersih (net buy) senilai Rp3,2 triliun dalam sepekan terakhir.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia masih menjadi magnet di tengah ketidakpastian pasar global.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menuturkan bahwa laju IHSG saat ini berada dalam keseimbangan antara solidnya data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tensi geopolitik.

Inflasi AS pada Desember 2025 yang terjaga di level 2,7 persen serta kuatnya pasar tenaga kerja Paman Sam memberikan sedikit ruang napas bagi pasar saham dunia.

“Namun, pasar mulai mencermati eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif 10 persen terhadap produk Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen pada Juni mendatang,” ungkap Imam dalam keterangannya, Senin (19/1).

Kebijakan yang menyasar anggota NATO tersebut memicu respons keras dari Uni Eropa dan mengancam keberlangsungan kesepakatan dagang AS-UE.

Ketidakpastian mengenai mekanisme penerapan tarif ini menjadi salah satu variabel yang wajib diwaspadai investor pada pekan-pekan mendatang karena berpotensi mengganggu stabilitas ekspor global.

Di sisi lain, raksasa ekonomi China menunjukkan kinerja yang kontras. Meski mencatatkan surplus perdagangan rekor sebesar USD 1,189 triliun sepanjang 2025, pertumbuhan kredit di Negeri Tirai Bambu justru tertahan di level 6,4 persen—terendah dalam sejarah.

Kondisi ini membuat bank sentral China (PBOC) diprediksi akan mengambil langkah agresif dengan menurunkan suku bunga serta Giro Wajib Minimum (GWM) guna memacu permintaan domestik.

Sektor riil China, khususnya kendaraan energi baru (NEV), memang mencatatkan lonjakan penjualan sebesar 28,2 persen sepanjang tahun lalu.

Namun, penurunan penjualan kendaraan secara total sebesar 6,2 persen pada bulan Desember mengindikasikan adanya pelemahan daya beli menjelang pergantian tahun.

Bagi pasar Indonesia, dinamika di China dan kebijakan proteksionisme Trump tetap menjadi faktor eksternal utama yang akan menentukan arah gerak arus dana asing ke depannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini