Jakarta, Ekoin.co – Di tengah dinamika ketidakstabilan global, pasar domestik mencatatkan kinerja positif. Sejumlah sentimen jadi penyokong seperti fundamental penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tumbuh 6,3% yoy, meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.
“Pertumbuhan terjadi pada berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan ritel meningkat 1,5%, menjadi laju tertinggi dalam delapan bulan terakhir,” kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, Senin (19/1).
Selain konsumsi, Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 4,3% yoy menjadi Rp256,3 triliun, berbalik arah dari kontraksi pada kuartal sebelumnya.
Sepanjang 2025, total FDI relatif stabil di Rp900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan menjadi tujuan utama investasi.
Selanjutnya di pasar komoditas, pergerakan harga dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik dan fundamental. Harga minyak WTI naik 0,4% dan ditutup di USD 59,44 per barel, seiring meredanya kekhawatiran eskalasi militer AS terhadap Iran, meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Harga batu bara (coal) menguat mendekati USD 110 per ton, mendekati level tertinggi satu bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah persiapan China untuk meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara baru.
Terakhir di segmen logam, harga timah (tin) melonjak ke USD 53.400 per ton, mencetak rekor tertinggi sejak 2022, seiring permintaan yang kuat dan keterbatasan pasokan global. Sementara itu, harga emas terkoreksi sekitar 1% ke USD 4.560 per ons, seiring meredanya permintaan aset lindung nilai.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak positif selama sepekan terakhir ditutup menguat 1,55% ke level 9.075 pada akhir perdagangan, Kamis, 14 Januari 2026. Selama sepekan terakhir investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp3,2 triliun. Arus dana asing yang kembali masuk ini mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro domestik di tengah volatilitas global. (*)





