Cadangan Gas Inggris Menyusut Tajam, Ancaman Krisis Energi dan Lonjakan Harga Menguat
London, Ekoin.co – Cadangan gas alam di Inggris dilaporkan mengalami penurunan tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Data terbaru dari operator jaringan transmisi energi nasional, National Gas, menunjukkan tingkat penyimpanan gas negara tersebut merosot signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jika sebelumnya cadangan gas Inggris berada di kisaran 18.000 gigawatt hour (GWh), kini volumenya hanya sekitar 6.700 GWh.
Dengan jumlah tersebut, persediaan yang ada diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan energi nasional selama sekitar satu setengah hari.
Selain penyimpanan gas konvensional, Inggris juga memiliki cadangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang disimpan di sejumlah fasilitas penyimpanan.
Namun volumenya relatif terbatas dan masih jauh di bawah kapasitas cadangan yang dimiliki sejumlah negara Eropa lainnya yang mampu menyimpan gas untuk kebutuhan hingga beberapa minggu.
Keterbatasan cadangan ini membuat Inggris harus bersaing lebih ketat di pasar energi global untuk mendapatkan pasokan gas tambahan.
Para pelaku perdagangan energi bahkan menaikkan harga penawaran karena Inggris harus mengajukan harga lebih tinggi dibandingkan negara lain agar dapat mengamankan pasokan.
Dampaknya, harga gas grosir di Inggris saat ini tercatat sebagai yang tertinggi di kawasan Eropa.
Situasi tersebut semakin diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Lembaga keuangan global Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi kembali melonjak jika gangguan pasokan tidak segera mereda.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa menembus angka di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel dalam waktu dekat apabila konflik dan gangguan distribusi energi terus berlanjut.
Selain itu, bank investasi tersebut juga menilai harga produk minyak olahan berpotensi melampaui rekor tertinggi sebelumnya seperti yang terjadi pada 2008 dan 2022 jika jalur distribusi energi utama, termasuk Selat Hormuz, tetap mengalami tekanan.
Lonjakan harga energi global ini diperkirakan akan berdampak luas, tidak hanya terhadap sektor industri tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat.
Ekonom dari University of Pennsylvania, Mohamed El-Erian, memperingatkan bahwa rumah tangga di Inggris berpotensi menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat akibat meningkatnya biaya energi serta kenaikan harga berbagai kebutuhan lainnya.



















Tinggalkan Balasan