Jakarta, Ekoin.co – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan. Pergerakan kurs yang kian mendekati level Rp17.000 per dolar AS memicu kekhawatiran publik akan stabilitas ekonomi nasional.
Namun, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pelemahan tersebut lebih disebabkan oleh keguncangan pasar global, bukan karena rapuhnya fondasi ekonomi Indonesia.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menyebut situasi saat ini sebagai fenomena psikologis pasar yang diperparah oleh arus modal internasional.
Menurutnya, investor global tengah mengalihkan portofolio ke aset-aset yang dianggap paling aman, terutama dolar AS.
“Yang kita hadapi bukan krisis domestik, melainkan perubahan arah dana global. Rupiah ikut tertekan karena Indonesia masuk kategori pasar berkembang yang sensitif terhadap sentimen eksternal,” ujarnya, Minggu (18/1/2026).
Rizal menegaskan, indikator makro Indonesia masih berada dalam kondisi relatif sehat. Pertumbuhan ekonomi terjaga, neraca eksternal tidak menunjukkan tekanan ekstrem, dan cadangan devisa dinilai cukup untuk meredam gejolak jangka pendek.
Meski demikian, kebijakan suku bunga tinggi di negara maju membuat dolar semakin dominan sebagai safe haven.
Dampak lanjutan mulai dirasakan sektor riil. Industri yang bergantung pada impor bahan baku menghadapi peningkatan biaya produksi, yang berpotensi menekan margin keuntungan dan daya saing.
Jika tekanan kurs berlangsung lama, risiko inflasi biaya juga tidak dapat diabaikan.
Dalam situasi ini, peran Bank Indonesia menjadi krusial. Indef menilai stabilisasi bukan hanya soal intervensi pasar, tetapi juga menjaga kredibilitas kebijakan dan komunikasi publik.
“Kepercayaan pasar adalah kunci. Selama otoritas mampu mengelola ekspektasi, gejolak rupiah tidak akan berubah menjadi krisis ekonomi,” pungkas Rizal.





