Dalam siklus waktu yang ditetapkan Tuhan, terdapat momentum-momentum tertentu yang memiliki nilai spiritual lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya. Salah satunya adalah bulan Sya’ban. Berada di antara Rajab yang sakral dan Ramadhan yang suci, Sya’ban sering kali dianggap sebagai “bulan yang terlupakan”. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, Sya’ban sejatinya adalah gerbang utama menuju penyucian diri.
Secara etimologi, kata Sya’ban (شعبان) dalam bahasa Arab bukan sekadar susunan huruf tanpa makna. Para ulama ahli hakikat mengurai bahwa kata ini terdiri dari lima huruf hijaiyah yang masing-masing merepresentasikan samudra keutamaan yang disediakan Allah SWT bagi hamba-Nya:
- Huruf Syin (ش): Mewakili kata Syaraf yang berarti kemuliaan. Di bulan ini, Allah mengangkat derajat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.
- Huruf ‘Ain (ع): Singkatan dari ‘Uluwwi yang berarti tingkat tinggi. Sya’ban adalah sarana untuk mendaki tangga spiritual menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.
- Huruf Ba’ (ب): Diambil dari kata Birr atau kebaikan. Pintu-pintu kebaikan dibuka seluas-luasnya, memberikan kesempatan bagi setiap jiwa untuk menebar manfaat.
- Huruf Alif (أ): Merujuk pada kata Ulfah yang bermakna kasih sayang atau keharmonisan. Sya’ban adalah saat yang tepat untuk merajut kembali silaturahmi dan menebar cinta antar-sesama.
- Huruf Nun (ن): Mewakili kata Nur yang berarti cahaya. Cahaya ini berfungsi sebagai penerang hati agar siap menerima hidayah penuh di bulan Ramadhan.
Bulan Shalawat dan Penghormatan kepada Sang Nabi Kekhasan lain dari Sya’ban adalah julukannya sebagai “Bulan Shalawat”.
Dalam kitab monumental al-Ghunyah, Quthbur Rabbani Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menukil sebuah pendapat bahwa Sya’ban adalah waktu di mana Allah SWT secara khusus bershalawat kepada Rasulullah SAW selaku Khairul Bariyyat (makhluk paling mulia).
Syaikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa dimensi shalawat di bulan ini terbagi menjadi tiga tingkatan yang luar biasa.
Pertama, shalawat dari Allah SWT kepada Nabi-Nya adalah bentuk Ta’dzimul Hurmah atau pengagungan kehormatan.
Kedua, shalawat dari para malaikat adalah Idzharul Karamah atau pengejawantahan karamah.
Dan ketiga, shalawat dari kita sebagai umat adalah Thalabus Syafa’ah, sebuah permohonan tulus untuk mendapatkan pertolongan beliau di hari akhir nanti.
Allah SWT selalu memilih yang terbaik dari setiap ciptaan-Nya. Jika dari malaikat Dia memilih Jibril, dari manusia Dia memilih Muhammad SAW, dan dari tempat Dia memilih Masjidil Haram, maka dari kategori bulan, Dia mengutamakan Sya’ban sebagai Syahrun Nabi (Bulannya Nabi).
Posisi ini menjadikan Sya’ban sebagai afdhalus syuhur atau bulan yang paling utama dalam konteks persiapan spiritual.
Sya’ban Sebagai Perantara Ketaatan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA secara eksplisit menegaskan perbedaan fungsi dari ketiga bulan berturut-turut: “Sya’ban adalah bulanku, Rajab adalah bulan Tuhanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. Sya’ban adalah pemberangus dosa (al-mukaffir) dan Ramadhan adalah penyucian diri (al-muthahhir).”
Seorang ulama memberikan analogi yang sangat menyentuh mengenai urgensi waktu.
Hidup kita hanya terbagi dalam tiga fase: Masa lalu (Rajab) yang sudah sirna dan tak mungkin kembali, masa depan (Ramadhan) yang masih bersifat rahasia apakah usia kita akan sampai ke sana?.
Dan masa kini, yaitu Sya’ban yang sedang kita hirup udaranya. Karena Sya’ban adalah “jembatan” yang ada di genggaman saat ini, maka menjaga ketaatan (falyaghtanim at-tha’at fiha) adalah sebuah keharusan yang tak boleh ditunda.
Sebagai pedoman praktis untuk mengisi ketaatan tersebut, pesan Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Umar bin Khattab menjadi sangat relevan.
Beliau merumuskan konsep “Lima Sebelum Lima”: menjaga masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.
Kelima perkara ini adalah modal utama bagi setiap muslim untuk menjemput cahaya Sya’ban agar saat kaki melangkah masuk ke bulan Ramadhan, jiwa kita sudah dalam keadaan bersih dan siap berpijar.





