Pesta Gaji dan Tunjangan Gerus Laba PGEO: Efisiensi Jadi Barang Mewah di Anak Usaha Pertamina?
Jakarta, Ekoin.co – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menghadapi anomali kinerja sepanjang tahun 2025. Meski pundi-pundi pendapatan tumbuh dan volume produksi mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, laba bersih emiten panas bumi ini justru merosot tajam sebesar 14,2 persen secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, PGEO hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar US$137,7 juta. Padahal, dari sisi *top line*, pendapatan perusahaan tumbuh 6,3 persen menjadi US$432,7 juta berkat derasnya setoran dari penjualan listrik ke PT PLN (Persero).
Beban Operasional Membengkak
Penyebab utama “boncosnya” laba PGEO terletak pada manajemen biaya. Beban pokok pendapatan melonjak drastis hingga 19,8 persen menjadi US$199,7 juta. Kenaikan signifikan tercatat pada pengeluaran upah, tunjangan karyawan, hingga jasa profesional yang menggerus margin keuntungan perusahaan.
Margin laba kotor PGEO menyusut dari 59 persen menjadi 53,8 persen, sementara margin laba bersih merosot ke angka 31,8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa operasional perusahaan menjadi jauh lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.
Target Ambisius 3 Gigawatt
Meski laba tertekan, Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, tetap membanggakan rekor produksi yang naik 5,6 persen. Perseroan juga tetap tancap gas mengejar target kapasitas terpasang hingga 3 Gigawatt (GW) di masa depan.
Saat ini, PGEO tengah mengandalkan proyek-proyek quick win dan pengembangan sejumlah unit strategis seperti Lumut Balai Unit 3 & 4 serta Lahendong Unit 7 & 8 untuk mendongkrak kapasitas produksi dalam waktu cepat.


















Tinggalkan Balasan