Ekonom Remehkan Pelemahan Kemarin, Sebut Rupiah Cuma ‘Latah’ Guncangan Global Saat Fundamental RI Masih Kuat
Jakarta, Ekoin.co – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS hanya bersifat sementara dan lebih dipengaruhi oleh dinamika global dibandingkan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rupiah kerap mengalami fase overshooting sebelum kembali menemukan titik keseimbangan.
Menurut dia, gejolak geopolitik, kenaikan harga energi, serta penguatan dolar AS membuat pasar keuangan bereaksi lebih cepat dibandingkan kondisi fundamental ekonomi.
“Dalam kondisi shock global seperti sekarang, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Karena itu kita sering melihat rupiah bergerak melemah lebih dulu,” ujar Fakhrul, Selasa (10/3).
Diketahui, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 63 poin atau 0,37 persen menjadi Rp16.886 per dolar AS
Fakhrul menjelaskan sejumlah indikator dasar ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang relatif baik, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, hingga stabilitas sektor keuangan.
“Kalau kita melihat indikator dasar ekonomi, pertumbuhan yang masih terjaga, inflasi yang relatif terkendali, dan stabilitas sektor keuangan yang masih baik, sebenarnya fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat,” katanya.
Dalam beberapa periode sebelumnya, rupiah sering kali menunjukkan kemampuan untuk kembali menguat setelah fase pelemahan yang cukup dalam ketika tekanan eksternal mulai mereda.
“Pasar keuangan sering bergerak terlalu jauh dalam satu arah. Dalam beberapa episode sebelumnya kita melihat rupiah bisa overshoot lebih dulu, tetapi ketika sentimen global mulai stabil dan arus dolar kembali masuk, penguatannya juga bisa cukup cepat,” katanya.
Fakhrul memandang langkah pemerintah memperkuat kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) merupakan arah yang tepat untuk memperkuat likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri.
Kebijakan DHE dinilai penting karena memperkuat likuiditas valas di dalam negeri. Dengan kewajiban penempatan DHE di dalam negeri, struktur pasar valas Indonesia bisa menjadi lebih dalam dan lebih stabil.
Namun demikian, ia menekankan stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada satu kebijakan. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan moneter cenderung memiliki bias yang lebih berhati-hati.
“Ketika harga energi naik dan tekanan global meningkat, ruang untuk pelonggaran kebijakan biasanya menjadi lebih sempit. Karena itu pasar juga akan menunggu bagaimana koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan ke depan,” kata Fakhrul. (*)























Tinggalkan Balasan