UAV Alap-Alap Karya Anak Bangsa untuk Misi Tanggap Darurat

Sumber dok brin.go.id

Jakarta, EKOIN.CO – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan terus menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan pesawat udara tanpa awak nasional. Salah satu inovasi unggulan yang kini memasuki tahap pengembangan lanjutan adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) bernama Alap-Alap.

Pengembangan UAV Alap-Alap menjadi bagian dari strategi BRIN untuk menguasai teknologi kunci secara mandiri. Dalam penjelasannya, Periset Pusat Riset Teknologi Penerbangan, Muhammad Amanta, menyebutkan bahwa terdapat tiga komponen teknologi utama yang saat ini menjadi fokus riset lintas bidang.

“Untuk sistem kendali, riset mencakup pengembangan on board system, on ground system, dan ground support. Sementara untuk communication data link, fokusnya pada communication system dan telemetry system,” ujar Amanta saat ditemui Tim Humas Kawasan di Kawasan Sains Jacob Salatun, Bogor, Senin (7/7).

Selain itu, pengembangan juga meliputi aspek utama dari unmanned aircraft, seperti platform, payload system, serta propulsion system. Ketiganya dikembangkan secara bersamaan agar menghasilkan UAV yang tangguh, efisien, dan mampu beroperasi dalam berbagai kondisi medan.

Salah satu fokus pengembangan utama adalah Flight Control Computer (FCC) yang menjadi inti dari sistem kendali UAV. FCC memungkinkan UAV untuk terbang secara autopilot dan menjalankan misi secara presisi.

Pengujian Material dan Teknologi Payload

BRIN juga mengembangkan material ringan sebagai komponen utama platform UAV. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi bahan bakar, memperluas daya jelajah, serta meningkatkan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Dari sisi muatan, UAV Alap-Alap akan dilengkapi dengan Synthetic Aperture Radar (SAR) sebagai payload unggulan. Teknologi radar ini dirancang untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi guna mendukung misi pemetaan, pengawasan wilayah terpencil, serta tanggap bencana.

“Dengan SAR, UAV ini diharapkan bisa memaksimalkan berbagai misi, mulai dari pemetaan, monitoring lingkungan, hingga mitigasi bencana,” jelas Amanta.

Di sisi penerima data, tim riset memfokuskan pada sistem penerimaan dan pengolahan data di darat. Komponen seperti antena, Radio Frequency (RF), radom, serta sistem transmisi video dikembangkan untuk memastikan kestabilan sinyal dalam berbagai kondisi operasi.

Sistem ini memungkinkan informasi yang dikirimkan UAV dapat diterima secara real-time dan diproses secara cepat di pusat komando. Hal ini penting agar keputusan lapangan dapat segera diambil berdasarkan data yang akurat.

Uji Lapangan dan Pengalaman Operasional

UAV Alap-Alap telah menjalani lebih dari sepuluh kali uji terbang dengan hasil yang menjanjikan. Dalam pengujiannya, UAV ini mampu bertahan di udara hingga enam jam dan menjangkau 100 kilometer dalam garis pandang langsung.

Amanta mengungkapkan bahwa UAV Alap-Alap telah terbukti andal dalam beberapa misi sebelumnya. Salah satunya ketika digunakan untuk pemetaan pascagempa Lombok tahun 2018 dan pengamatan erupsi Gunung Anak Krakatau di tahun yang sama.

“Sejauh ini, UAV Alap-Alap telah menunjukkan performa menjanjikan. Pesawat ini pernah diterjunkan untuk pemetaan pasca gempa di Lombok pada 2018, serta mendukung pengamatan erupsi Gunung Anak Krakatau di tahun yang sama,” kata Amanta.

Dari segi desain, Alap-Alap dirancang kompak sehingga mudah dalam proses peluncuran maupun pengendalian. Hal ini membuatnya cocok untuk digunakan dalam misi cepat yang tidak memerlukan banyak personel teknis.

Efisiensi dan Harapan Masa Depan

UAV ini tidak hanya unggul dari sisi teknis, namun juga dari segi ekonomis. Dibandingkan dengan UAV di kelas serupa, Alap-Alap dinilai lebih efisien dalam operasional jangka panjang karena biaya pengembangan dan pengoperasiannya yang relatif rendah.

“UAV ini terbukti tangguh, mampu menyelesaikan berbagai misi monitoring dan pemetaan di kondisi medan yang menantang. Dari perspektif biaya, Alap-Alap juga lebih ekonomis dibandingkan UAV di kelas sejenis,” ujar Amanta.

Ia menambahkan bahwa nama Alap-Alap sendiri terinspirasi dari burung pemangsa dari keluarga Falkonidea, yang terkenal akan kecepatan dan kelincahannya di udara.

“Harapannya, UAV Alap-Alap pun dapat bermanuver gesit di udara layaknya burung Alap-Alap,” pungkasnya.

Pengembangan UAV Alap-Alap oleh BRIN menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun kemandirian teknologi penerbangan. Dengan menguasai teknologi kendali, komunikasi, hingga payload, BRIN berupaya menyiapkan UAV yang tidak hanya berteknologi tinggi, tetapi juga memiliki nilai strategis untuk misi nasional.

Berbagai pengujian dan pengalaman lapangan telah membuktikan keandalan Alap-Alap di berbagai medan, mulai dari bencana alam hingga pengawasan lingkungan. Efisiensi desain dan operasionalnya menjadikannya solusi UAV yang aplikatif untuk kebutuhan masa depan.

Dengan terus dilakukannya riset mendalam dan kolaborasi lintas bidang, UAV Alap-Alap diharapkan menjadi pionir dalam pengembangan pesawat udara tanpa awak nasional yang tangguh, cerdas, dan mandiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights