Banda Aceh EKOIN.CO – Pasca banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memastikan seluruh layanan perbankan telah kembali beroperasi normal.
Pemulihan ini berlangsung dalam kurun dua pekan setelah bencana, seiring dibukanya kembali 145 outlet BSI di seluruh Aceh.
Selain memulihkan layanan, BSI juga mengemban misi kemanusiaan dengan membuka layanan penukaran Uang Tidak Layak Edar (UTLE) bagi masyarakat.
Layanan ini ditujukan untuk membantu warga menukar uang tunai yang rusak akibat terendam banjir agar dapat kembali dimanfaatkan.
Banjir yang terjadi di Aceh tersebut menyebabkan lumpur dan air merendam rumah warga, termasuk harta benda berupa uang tunai. Kondisi ini mendorong BSI untuk menghadirkan solusi konkret di tengah proses pemulihan ekonomi masyarakat.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyampaikan empati mendalam atas musibah yang dialami masyarakat Aceh. Ia menilai banyak warga berupaya menyelamatkan sisa harta mereka, termasuk uang yang rusak karena air dan lumpur.
“Kami menyaksikan langsung bagaimana masyarakat berjuang mengeringkan lembaran uang yang tertimbun lumpur. Sebagai bentuk layanan sepenuh hati, kami membuka pintu di seluruh outlet BSI Aceh untuk memfasilitasi penukaran uang rusak tersebut agar dapat kembali menjadi saldo tabungan atau digunakan bertransaksi,” ujar Anggoro.
Layanan penukaran UTLE ini dilakukan sesuai ketentuan Bank Indonesia. Prosesnya mencakup verifikasi fisik uang, pencatatan identitas, serta pencocokan nominal yang masih dapat ditukar secara sah.
Dalam dua pekan pemulihan, BSI melakukan langkah masif. Pembersihan lumpur di kantor cabang menjadi prioritas agar layanan segera berjalan. Setelah itu, jaringan telekomunikasi diaktifkan kembali untuk mendukung operasional perbankan.
Selain pemulihan layanan, BSI menyalurkan bantuan logistik lebih dari 140 ton kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pokok, perlengkapan kebersihan, serta dukungan darurat lainnya.
BSI juga terlibat dalam pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan jangka menengah agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
Menurut Anggoro, inisiatif penukaran uang rusak bukan sekadar layanan perbankan. BSI memandangnya sebagai upaya mengembalikan hak finansial masyarakat sekaligus menghadirkan rasa aman di tengah kondisi sulit.
Pemulihan Layanan Perbankan
Seluruh outlet BSI di Aceh kini beroperasi normal setelah melalui tahapan pemulihan bertahap. Aktivitas layanan teller, customer service, hingga pembiayaan kembali berjalan seperti sebelum bencana.
Nasabah yang sempat tertunda transaksinya kini dapat kembali mengakses layanan di kantor cabang. BSI memastikan kesiapan sumber daya manusia dan sistem untuk melayani kebutuhan masyarakat.
BSI juga melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat agar proses pemulihan berjalan sesuai ketentuan. Langkah ini bertujuan menjaga keamanan transaksi dan kepercayaan nasabah.
Anggoro menegaskan bahwa seluruh proses pemulihan dilakukan secara terukur. Fokus utama adalah memastikan layanan keuangan tetap inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh.
Di sisi lain, BSI mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap layanan. Hal ini dilakukan agar nasabah merasa nyaman dan aman ketika kembali bertransaksi pasca bencana.
Dorongan Pemanfaatan Layanan Digital
Seiring normalisasi layanan, BSI juga mendorong pemanfaatan e-channel. Anggoro menghimbau nasabah untuk menggunakan layanan digital guna menghemat waktu dan meminimalkan antrean di kantor cabang.
“Kami mengajak nasabah memanfaatkan layanan e-channel seperti BSI Call 14040, mobile banking BYOND, BSI ATM, BSI Agen, BSI Net Banking, BEWIZE, maupun BSI Cash Management,” kata Anggoro.
Pemanfaatan kanal digital dinilai efektif untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari. Nasabah dapat melakukan berbagai layanan tanpa harus datang langsung ke kantor cabang.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya BSI dalam menjaga kenyamanan nasabah di tengah proses pemulihan pasca banjir. Dengan layanan digital, aktivitas keuangan tetap berjalan lancar.
BSI memastikan seluruh sistem digital berfungsi optimal dan aman. Dukungan teknis terus disiagakan untuk mengantisipasi kendala selama masa pemulihan.
Dalam konteks jangka panjang, BSI melihat digitalisasi sebagai solusi penting dalam menghadapi situasi darurat. Layanan yang fleksibel memungkinkan masyarakat tetap terhubung dengan sistem perbankan.
Sebagai penutup, BSI mengimbau masyarakat Aceh untuk segera memanfaatkan layanan penukaran UTLE di outlet terdekat. Langkah ini membantu mengembalikan nilai uang yang terdampak banjir.
Masyarakat juga disarankan memanfaatkan kanal digital agar transaksi berjalan lebih efisien. Hal ini dapat mengurangi waktu tunggu dan mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi.
BSI berkomitmen menjaga keberlanjutan layanan perbankan di Aceh. Dukungan ini diharapkan dapat membantu masyarakat bangkit secara bertahap pasca bencana.
Dengan kolaborasi antara layanan perbankan, bantuan logistik, dan dukungan hunian sementara, proses pemulihan di Aceh diharapkan berjalan lebih cepat dan terarah.
BSI menegaskan akan terus hadir mendampingi masyarakat Aceh dalam setiap fase pemulihan. Komitmen ini menjadi bagian dari peran BSI sebagai lembaga keuangan syariah nasional. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





