Ekoin.co – Pendidikan adab merupakan kunci utama menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.
Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Islam sejak masa Rasulullah hingga para ulama salaf. Sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surah At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.”
Ayat ini atas menuntut kesungguhan umat Islam dalam mendidik keluarga, khususnya anak-anak, agar berada di jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Al-Jihad Montasik, Ustaz Marfiandi menyampaikan hal itu dalam khutbah Jum’at di Masjid Jamik Bukit Baro Cot Goh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar, 23 Januari 2026 bertepatan 4 Sya’ban 1447 Hijriah.
“Pertanyaan besarnya adalah bagaimana cara menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka. Ali bin Abi Thalib RA menjelaskan makna ayat ini dengan ungkapan addibuhum wa ‘allimuhum, yakni didiklah keluargamu dengan adab dan ilmu,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanaman adab harus menjadi prioritas utama sebelum penguasaan ilmu. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Akrimū aulādakum wa aḥsinū adābahum”, yang berarti muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah adab mereka.
Menurut Ustaz Marfiandi, sejak zaman Rasulullah SAW, para sahabat, hingga ulama tabi’in, adab selalu menjadi fondasi utama pendidikan.
Imam Malik, misalnya, menekankan prinsip “ta‘allamul adab qabla al-‘ilm” (pelajarilah adab sebelum ilmu).
Hal senada juga disampaikan Imam Al-Laits bin Sa‘ad dengan ungkapan “ta‘allamul ḥilm qabla al-‘ilm”, yakni belajar sopan santun sebelum ilmu.
Bahkan, ulama besar dari kalangan tabi‘ut tabi‘in, Abdullah bin Mubarak, menyebutkan bahwa jika agama dibagi menjadi dua bagian, maka dua pertiganya adalah adab dan sepertiganya adalah ilmu.
“Ini menunjukkan betapa sentralnya adab dalam ajaran Islam,” tegasnya.
Ustaz Marfiandi menyayangkan kondisi dunia pendidikan saat ini, mulai dari lingkungan keluarga hingga perguruan tinggi, yang dinilai mulai mengabaikan adab. Padahal, lanjutnya, ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, penyalahgunaan pengetahuan, bahkan kejahatan.
“Ilmu tanpa adab bukan melahirkan orang berilmu, tapi justru biadab,” tegasnya.
Ia juga membandingkan konsep adab dalam Islam dengan pendidikan karakter di Barat. Menurutnya, bangsa-bangsa Barat menanamkan karakter berbasis budaya dan aturan, sementara adab dalam Islam berakar pada iman.
“Seorang mukmin menjaga adab bukan hanya karena kebiasaan atau takut sanksi, tapi karena kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah,” jelasnya.
Ustaz Marfiandi mencontohkan persoalan sederhana seperti membuang sampah. Jika dalam budaya tertentu hal itu dijaga karena aturan, maka dalam Islam dijaga karena iman dan kesadaran bahwa perbuatan tersebut bisa berdampak pada orang lain dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Lebih lanjut ia mengutip keterangan Imam As-Suyuthi dalam kitab Jāmi‘uṣ-Ṣaghīr, bahwa pendidikan adab dalam keluarga dapat dilakukan melalui tiga cara utama, yaitu menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, mencintai keluarga beliau, dan membiasakan membaca Al-Qur’an.
Di akhir khutbahnya, pengajar materi keagamaan pada SMAN 2 Banda Aceh ini mengingatkan, hidayah tidak selalu datang melalui ceramah panjang atau perdebatan dalil, melainkan sering hadir melalui hal-hal sederhana.
“Kadang hidayah datang dari senyuman, keramahan, dan sikap menghargai sesama manusia,” ujarnya.
Ia menutup dengan mengutip sabda Rasulullah SAW, “Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya dengan wajah yang berseri,” (HR Muslim) dan hadis lainnya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” (HR Ahmad). Menurutnya, ketika adab ditegakkan, maka kejayaan Islam akan kembali terwujud.





