Jakarta, Ekoin.co – Industri olahraga nasional saat ini sedang memasuki babak baru di bawah arahan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang fokus pada penguatan struktur ekosistem. Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menekankan bahwa pengembangan sektor ini tidak boleh lagi hanya berorientasi pada capaian jangka pendek melainkan harus mengarah pada keberlanjutan yang kokoh. Sektor ini sering kali terlihat hidup hanya di permukaan dengan berbagai ajang internasional, namun fondasi dasarnya masih memerlukan penguatan yang mendalam. Kondisi tersebut menciptakan tantangan besar yang dikenal sebagai distopia industri olahraga, di mana pertumbuhan tampak cepat tetapi rapuh tanpa perlindungan sistemik yang memadai.
Guna mengatasi hal tersebut, negara hadir melalui kerangka kebijakan strategis yang memastikan industri tetap terarah dan terlindungi dari eksploitasi berlebihan yang berorientasi instan. Langkah konkret ini terwujud melalui kolaborasi lintas kementerian yang menggunakan nota kesepahaman sebagai instrumen penyelarasan kebijakan yang efektif dan efisien. Salah satu bentuk nyata kerja sama tersebut adalah sinergi antara Kemenpora dengan Kementerian Dalam Negeri untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Keselarasan administrasi ini sangat vital agar program pengembangan industri olahraga nasional berjalan konsisten dengan rencana pembangunan serta kewenangan pemerintah daerah masing-masing.
Selain aspek birokrasi, Kemenpora juga menjalin kemitraan erat dengan Kementerian UMKM demi membuka peluang ekonomi bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Fasilitasi kebijakan ini memberikan ruang bagi produk lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam setiap kegiatan olahraga yang terselenggara di seluruh penjuru tanah air. Pendekatan tersebut memperluas basis ekonomi tanpa harus menggeser mandat kelembagaan yang sudah ada pada masing-masing pihak terkait. Namun, tantangan struktural yang nyata masih terlihat jelas pada komposisi pasar domestik yang saat ini masih didominasi oleh pengaruh global.
Tantangan Pasar dan Dominasi Produk Impor
Berdasarkan Laporan Indeks Pembangunan Olahraga atau IPO Kemenpora tahun 2024, komposisi pasar peralatan olahraga di Indonesia memang masih didominasi oleh merek asing. Data menunjukkan bahwa produk sepatu olahraga impor saat ini menguasai sekitar 65 persen pangsa pasar nasional yang sebenarnya sangat potensial bagi produsen lokal. Sementara itu, produk dalam negeri hanya mampu menyerap sekitar 35 persen pasar, yang menunjukkan adanya ketimpangan kapasitas produksi yang perlu segera mendapat perhatian serius. Angka yang hampir serupa terlihat pada kategori pakaian olahraga di mana produk impor mencatatkan dominasi yang cukup signifikan.
Produk luar negeri untuk kategori apparel olahraga mencatatkan angka sebesar 56 hingga 57 persen, sehingga menyisakan ruang di bawah 45 persen bagi produk nasional. Kondisi ini memberikan sinyal kuat bahwa industri olahraga nasional memerlukan intervensi kebijakan agar produk lokal memiliki daya saing yang setara dengan pemain global. Dominasi produk luar bukan semata soal selera konsumen, melainkan tanda perlunya penguatan kebijakan agar produk nasional memiliki ruang tumbuh yang lebih adil. Oleh karena itu, sinergi dengan Kementerian Perindustrian menjadi sangat relevan untuk melakukan standardisasi peralatan serta pakaian olahraga buatan dalam negeri.
Fokus utama dari kerja sama ini adalah memastikan bahwa kapasitas industri pendukung terus tumbuh sejalan dengan arah kebijakan industri nasional yang berlaku secara umum. Tujuannya tentu bukan untuk menggantikan mekanisme pasar secara paksa, melainkan memberikan peluang nyata bagi industri lokal untuk berkembang dan mengisi pasar domestik. Seluruh rangkaian kerja sama lintas kementerian ini merupakan upaya sistematis untuk mencegah terjadinya fenomena youthanasia dalam industri olahraga nasional. Istilah tersebut merujuk pada potensi industri yang mati dini karena minimnya perlindungan serta sistem yang terlalu cepat mengalami eksploitasi demi kepentingan sesaat.

Membangun Ekosistem Berkelanjutan dan Mandiri
Tanpa adanya koordinasi yang memadai antar lembaga, industri olahraga nasional berisiko hanya menjadi panggung pameran sementara tanpa dampak ekonomi yang menetap bagi masyarakat. Negara ingin memastikan bahwa setiap keringat atlet dan antusiasme penonton memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan melalui ekosistem yang mandiri dan kuat. Namun, publik perlu memahami bahwa nota kesepahaman yang telah ditandatangani bukanlah akhir dari perjalanan melainkan baru merupakan langkah awal yang penuh tantangan. Konsistensi dalam implementasi di lapangan menjadi kunci utama agar visi besar dalam membenahi industri olahraga dapat tercapai sepenuhnya tanpa hambatan berarti.
Upaya membangun kerangka kolaboratif ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak lagi membiarkan sektor olahraga berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang jelas dari pusat. Integrasi data dan kebijakan antar kementerian diharapkan mampu menekan angka dominasi produk asing yang selama ini menghambat pertumbuhan para pengusaha kreatif lokal. Jika arah kebijakan ini tetap terjaga dengan baik, maka distopia yang menghantui industri olahraga nasional dapat perlahan dihapuskan dari peta pembangunan ekonomi nasional. Olahraga tidak lagi sekadar tentang memenangkan medali di lapangan, tetapi juga tentang memenangkan persaingan pasar domestik melalui kualitas produk anak bangsa.
Pada akhirnya, peran strategis Kemenpora menemukan relevansinya dalam menjaga agar industri ini tidak hanya sekadar populer saat ada ajang besar saja. Pemerintah berupaya memastikan industri olahraga nasional mampu tumbuh dewasa, memiliki daya tahan tinggi, dan mampu memberikan kontribusi jangka panjang bagi kemajuan negara. Penguatan fondasi yang dilakukan hari ini akan menentukan apakah bangsa Indonesia akan menjadi konsumen abadi atau menjadi produsen yang disegani di dunia. Dengan kerja sama yang solid, masa depan industri olahraga kita diharapkan akan lebih cerah dan menjadi pilar ekonomi baru yang membanggakan bagi seluruh rakyat.
Pemerintah perlu menjaga konsistensi pengawasan terhadap implementasi nota kesepahaman lintas kementerian agar tidak sekadar menjadi dokumen formalitas belaka di masa mendatang.
Pelaku industri lokal sebaiknya mulai meningkatkan standardisasi produk mereka agar mampu bersaing secara kualitas dengan merek internasional yang saat ini mendominasi pasar nasional secara masif.
Masyarakat Indonesia hendaknya memberikan dukungan nyata dengan mengutamakan pembelian produk perlengkapan olahraga karya anak bangsa untuk membantu memperkuat struktur ekonomi domestik secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah harus aktif menyelaraskan program pengembangan olahraga di wilayahnya dengan visi pemerintah pusat guna menciptakan kesinambungan pembangunan industri dari hulu hingga ke hilir.
Pemanfaatan data akurat dari Indeks Pembangunan Olahraga harus menjadi rujukan utama dalam setiap pengambilan keputusan strategis agar kebijakan yang diambil pemerintah selalu tepat sasaran bagi pelaku industri.
Industri olahraga nasional memerlukan sinergi kuat antar kementerian untuk mengatasi masalah dominasi produk impor yang masih menguasai mayoritas pasar sepatu dan pakaian olahraga saat ini.
Langkah strategis Kemenpora di bawah kepemimpinan Erick Thohir menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari orientasi jangka pendek menuju pembangunan ekosistem yang berkelanjutan bagi kemajuan bangsa.
Fenomena youthanasia industri dapat dicegah melalui perlindungan kebijakan yang sistematis serta pemberian ruang yang lebih luas bagi pelaku UMKM lokal untuk terus berkembang lebih optimal.
Keberhasilan pembangunan sektor ini kelak akan menjadikan industri olahraga sebagai kekuatan ekonomi baru yang sangat strategis dan mampu berdiri mandiri di atas kaki sendiri.
Kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha merupakan kunci utama untuk menghapus distopia serta mewujudkan industri olahraga nasional yang tangguh.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





