Jakarta, Ekoin.co – Biaya pembangunan proyek Tol Serang-Panimbang, diperkirakan membengkak hingga Rp1,6 triliun. Membengkaknya biaya proyek ini akibatnya molornya pengerjaannya.
Tak heran, membengkaknya biaya konstruksi proyek jalan tol tersebuthingga Rp1,6 triliun mendapat sorotan parlemen.
“Biaya baru ini supaya selesai masih defisit Rp1,6 triliun. Siapa yang harus tanggung Rp1,6 triliun ini? Situasi kondisi keuangan negara lagi nggak baik-baik saja,” kata Sofwan Dedy Ardyanto dikutip dari kanal YouTube DPR RI, Selasa (27/1/2026).
Menurut anggota Fraksi PDIP, keterlambatan tersebut dipicu oleh banyaknya variabel masalah. Salah satunya, adanya perubahan desain di tengah jalan guna menyesuaikan temuan teknis di lapangan.
Sofwan mengatakan, tak jelasnya salah satu proyek strategis nasional disayangkan. Hal itu juga menunjukkan belum matangnya perencanaan proyeknya.
Sofwan mempertanyakan pertanggungjawaban pengelolaan anggaran proyek tersebut, mengingat pembengkakan biaya sering kali menjadi beban tambahan bagi APBN maupun penugasan BUMN.
Karena itu, anggota DPR RI menekankan agar setiap elemen yang terlibat dalam pembangunan Tol Serang-Panimbang kembali fokus dan serius dalam mengejar ketertinggalan progres.
Diketahui,.Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebelumnya menargetkan bahwa Konstruksi Tol Serang – Panimbang dibidik tersambung penuh pada akhir tahun 2026.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PU menjelaskan, Tol Serang – Panimbang terdiri dari tiga seksi. Seksi 1 (Serang – Rangkasbitung) sepanjang 26,5 kilometer (Km) saat ini telah beroperasi sejak Desember 2021.
Sementara itu, Seksi 2 (Rangkasbitung – Cileles) sepanjang 24,17 km dan Seksi 3 (Cileles – Panimbang) sepanjang 33 km tengah dikebut proses konstruksinya untuk dapat rampung pada 2026.
“Seksi 1 Jalan Tol Serang – Panimbang saat ini telah beroperasi, sementara pembangunan dilanjutkan pada Seksi 2 dan Seksi 3,” mengutip penjelasan BPJT di akun Instagram resminya. (*)





