Antrean Panjang BBM Terjadi di Banyak Negara Akibat Konflik Timur Tengah dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Kondisi ini membuat kekhawatiran meningkat, mengingat Korea Selatan sangat bergantung pada impor energi. Lebih dari 90 persen kebutuhan energi negara itu berasal dari luar negeri, dengan sebagian besar pasokan minyak melewati Selat Hormuz.
Antrean kendaraan mengular di sebuah stasiun pengisian bahan bakar saat warga berbondong-bondong membeli BBM di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Jakarta, Ekoin.co — Kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi energi global mulai memicu aksi panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara.

Fenomena ini muncul setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Ketidakpastian ini membuat masyarakat di berbagai negara berbondong-bondong mengisi bahan bakar karena khawatir harga melonjak atau pasokan terganggu.

Di beberapa wilayah bahkan dilaporkan terjadi antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar.

Korea Selatan Dilanda Antrean Panjang

Gejala panic buying terlihat jelas di Korea Selatan. Antrean kendaraan dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU di Seoul setelah harga minyak global melonjak akibat gejolak geopolitik.

Banyak pengendara memilih mengisi penuh tangki kendaraan mereka untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar. Harga bensin di negara tersebut bahkan telah menembus 1.800 won per liter atau sekitar Rp21.000.

Kondisi ini membuat kekhawatiran meningkat, mengingat Korea Selatan sangat bergantung pada impor energi. Lebih dari 90 persen kebutuhan energi negara itu berasal dari luar negeri, dengan sebagian besar pasokan minyak melewati Selat Hormuz.

Laporan media lokal juga menyebut sejumlah kapal tanker yang membawa minyak menuju Korea Selatan tertahan di kawasan tersebut setelah meningkatnya ketegangan militer.

Australia Imbau Warga Tidak Panik

Situasi serupa juga terjadi di Australia, khususnya di kota Perth, di mana antrean kendaraan terlihat memadati SPBU pada malam hari.

Pemerintah negara bagian berupaya menenangkan masyarakat dan meminta warga tidak melakukan pembelian berlebihan.

Perdana Menteri Australia Barat Roger Cook menegaskan pasokan bahan bakar masih tersedia sehingga masyarakat diminta tetap tenang.

Di Queensland, otoritas otomotif bahkan berencana melaporkan sejumlah pengecer BBM ke Australian Competition and Consumer Commission karena diduga menaikkan harga secara tidak wajar setelah konflik meningkat.

Harga bahan bakar di wilayah tersebut tercatat melonjak hingga 219,9 sen per liter di beberapa SPBU.

Inggris Juga Mengalami Lonjakan Permintaan

Di Inggris, kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kelangkaan bahan bakar juga menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU.

Pengendara di London, Manchester, hingga Liverpool dilaporkan harus menunggu lebih dari satu jam untuk mendapatkan bahan bakar.

Meski demikian, otoritas energi setempat menegaskan pasokan masih stabil dan masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian berlebihan karena justru dapat memperparah situasi.

Bangladesh Mulai Batasi Penjualan

Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga dirasakan di Bangladesh. Antrean kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di kota besar seperti Dhaka dan Chattogram.

Menurut Bangladesh Petroleum Corporation, cadangan bahan bakar saat ini masih tersedia, namun lonjakan permintaan terjadi akibat masyarakat mulai menimbun BBM.

Penjualan solar yang biasanya sekitar 12.000 hingga 13.000 ton per hari bahkan dilaporkan melonjak hingga lebih dari 20.000 ton.

Untuk mengendalikan situasi, pemerintah setempat mulai menerapkan pembatasan penjualan bahan bakar harian.

Myanmar Perketat Penggunaan Kendaraan

Krisis energi global juga mulai terasa di Myanmar yang selama ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakarnya.

Pemerintah militer setempat bahkan menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi berdasarkan nomor pelat guna menghemat konsumsi bahan bakar.

Juru bicara junta militer Zaw Min Tun menyebut cadangan bahan bakar negara itu diperkirakan cukup untuk sekitar 40 hari.

Namun antrean kendaraan tetap terlihat di sejumlah SPBU di Yangon, sementara beberapa stasiun pengisian bahkan terpaksa menutup layanan sementara karena pasokan belum tiba.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas energi global serta memicu kepanikan di berbagai negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini