Operasi Epic Fury Berlanjut, Trump Targetkan IRGC Selama 4 Pekan ke Depan
Jakarta, Ekoin.co – Operasi militer Operation Epic Fury yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran diperkirakan masih akan berlanjut hingga tiga sampai empat pekan ke depan.
Melansir laporan Sputnik News, fase lanjutan operasi tersebut akan difokuskan pada upaya melemahkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kekuatan militer elit Iran yang dianggap sebagai pilar utama pertahanan dan stabilitas rezim di Teheran.
Sumber yang dikutip media tersebut menyebutkan, kampanye militer berikutnya diarahkan untuk menggerus kekuatan IRGC hingga mencapai titik di mana potensi pemberontakan internal di Iran dapat terjadi.
“Akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan dari dalam Iran. Mungkin sebuah kota akan jatuh atau sebuah unit militer memberontak,” ujar sumber tersebut.
Dalam pernyataannya di sebuah acara di negara bagian Kentucky, Trump mengklaim Amerika Serikat telah “memenangkan” perang melawan Iran, namun menegaskan operasi militer akan tetap dilanjutkan hingga misi benar-benar selesai.
“Kami tidak akan pergi sampai pekerjaan itu selesai dan itu akan sangat cepat,” kata Trump.
Konflik ini memanas setelah pada 28 Februari lalu Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Tehran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Ketegangan juga meningkat setelah IRGC menutup jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Amerika Serikat dan Israel awalnya menyatakan operasi militer dilakukan untuk menekan ancaman dari program nuklir Iran. Namun kemudian mereka menegaskan bahwa tujuan yang lebih luas adalah mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras serangan tersebut dan menyebut pembunuhan Ali Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi konflik dan menghentikan permusuhan yang berpotensi memicu krisis keamanan global yang lebih luas.























Tinggalkan Balasan