Dibayangi Inflasi Energi Global Akibat Konflik Timteng, IHSG Bergerak Melemah ke Level 7.338,82
Jakarta, Ekoin.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah. IHSG dibuka melemah 23,30 poin atau 0,32 persen ke level 7.338,82.
Pelemahan indeks saham karena ekspektasi pelaku pasar terkait kebijakan The Fed akan bersikap hawkish (ketat) akibat risiko inflasi energi global imbas terjadinya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Seperti yang Kiwoom Research ramalkan, IHSG agak susah naik tinggi menimbang segala sentimen global yang terjadi, pun di kala menjelang libur panjang Idul Fitri, yang mana membuat banyak investor mengurangi posisi portofolio mereka demi terhindar dari gejolak pasar selama ditinggal liburan,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (13/3).
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) juga menyebut konflik antara AS dan Iran berpotensi menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik menjadi hampir berhenti, yang memaksa negara produsen Teluk memangkas produksi sekitar 10 juta barel per hari.
Secara global, pasokan minyak diperkirakan turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026.
IEA merespons dengan pelepasan cadangan strategis sekitar 400 juta barel, sementara AS berencana melepas sekitar 172 juta barel dari cadangan daruratnya.
Di sisi lain, Iran memperingatkan harga minyak dapat mencapai 200 dolar AS per barel apabila konflik meningkat.
Meski demikian, Iran masih mengirim sekitar 11,7–12 juta barel minyak melalui Selat Hormuz ke China sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. (*)























Tinggalkan Balasan