Kesalahan Menu Singapore Airlines Diprotes Sajikan Hidangan Babi KePenumpang Muslim

 

Singapura EKOIN.CO – Maskapai Singapore Airlines (SIA) menyampaikan permintaan maaf kepada seorang penumpang Muslim setelah menyajikan hidangan yang mengandung babi dalam penerbangan SQ24 dari Singapura ke New York. Kejadian itu berlangsung dalam penerbangan selama 18 jam pada awal pekan ini.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Penumpang yang diketahui bernama Jey, warga Singapura, menceritakan bahwa ia menerima menu bertuliskan “Grilled Mediterranean Salad with Prosciutto” saat salah satu layanan makanan. Karena tidak mengetahui arti prosciutto, ia bertanya kepada awak kabin.

Menurut pengakuan Jey, awak kabin menyatakan bahwa menu tersebut aman dikonsumsi dan bukan olahan babi. Namun, setelah mencicipi, ia mencari tahu arti kata prosciutto dan mendapati bahwa itu adalah daging babi yang dia larang untuk dikonsumsi.

Jey mengaku terkejut dan merasa kecewa dengan kejadian tersebut. “Saya benar-benar syok,” ujarnya kepada media digital Mothership, seperti dilaporkan Malay Mail. Ia segera mengonfrontasi awak kabin terkait kesalahan itu.

Awak kabin kemudian menjelaskan bahwa kemungkinan terjadi kesalahan pendengaran. Mereka mengakui bahwa staf yang menyajikan menu adalah anggota baru yang tidak mengetahui bahwa prosciutto adalah olahan babi.

Kronologi dan tanggapan maskapai

Setelah kejadian, Jey mengajukan komplain kepada pihak SIA. Maskapai sempat menawarkan voucher KrisShop senilai S$150, kemudian 15.000 KrisFlyer miles, dan terakhir 30.000 miles. Seluruh tawaran tersebut ditolak.

Menurut Jey, kompensasi yang diberikan tidak sepadan. “Tak satu pun orang beriman, baik Muslim, Yahudi, Hindu, atau lainnya, yang rela melanggar aturan suci demi 30.000 miles,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa harga tiket penerbangannya mencapai sekitar S$10.000. Jey mendesak SIA agar lebih memahami keseriusan masalah tersebut dan memperbaiki layanan menu.

Jey juga melaporkan kejadian itu ke Departemen Transportasi Amerika Serikat. Dalam laporannya, ia menyebut sudah memesan makanan khusus Muslim untuk layanan makanan ringan dan memilih menu dari layanan “Book the Cook” untuk makan siang.

Tidak ditemukan label babi pada hidangan tersebut. Menurut Mothership, situs resmi SIA memang tidak secara konsisten mencantumkan label babi pada menu yang mengandung bahan tersebut.

Langkah korektif dan himbauan

Dalam email yang dilihat Mothership, seorang petugas layanan pelanggan SIA mengakui bahwa awak kabin awalnya tidak yakin apakah prosciutto adalah babi dan tetap menyajikannya.

Setelah menyadari kesalahan, awak kabin meminta maaf kepada Jey dan menawarkan menu alternatif. Namun tawaran itu ditolak.

Dalam pernyataan resminya, juru bicara SIA membenarkan insiden tersebut. “Ketika awak kabin mengetahui bahwa pelanggan tidak mengonsumsi babi, mereka langsung meminta maaf, menarik kembali hidangan, dan menawarkan pilihan lain,” ujarnya.

Maskapai menegaskan telah memperkuat pelatihan dan prosedur bagi awak kabin untuk mencegah insiden serupa. Komunikasi dengan Jey juga terus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini.

SIA mengimbau penumpang dengan kebutuhan diet khusus untuk melakukan pemesanan menu khusus sebelum setiap layanan makan. Langkah ini diharapkan menghindari kesalahpahaman di masa mendatang.

Kesalahan ini menjadi perhatian publik, terutama di kalangan penumpang yang memiliki pantangan makanan berdasarkan keyakinan agama. Kasus ini menambah sorotan terhadap layanan makanan di penerbangan jarak jauh.

Pengalaman Jey memunculkan diskusi lebih luas mengenai pentingnya ketelitian awak kabin dan kejelasan informasi menu. Beberapa pihak menilai pelabelan makanan harus dilakukan lebih konsisten.

SIA memastikan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan makanan sedang berlangsung. Maskapai menargetkan perbaikan dalam sistem informasi menu sebelum akhir tahun ini.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kesalahan sekecil apapun dalam layanan makanan dapat berdampak besar terhadap kenyamanan dan kepercayaan penumpang.

Penting bagi industri penerbangan untuk menjaga standar pelayanan dan menghormati kebutuhan penumpang dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam.

insiden ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas antara penumpang dan awak kabin.

Maskapai diharapkan memiliki prosedur yang tegas untuk memastikan setiap menu sesuai dengan permintaan diet khusus.

Penumpang juga perlu memeriksa kembali menu yang disajikan jika memiliki pantangan makanan tertentu.

Penyajian makanan yang tepat tidak hanya soal rasa, tetapi juga menghormati keyakinan pribadi.

Ke depan, kolaborasi antara penumpang dan maskapai menjadi kunci untuk menghindari kejadian serupa. (*)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini