Sulawesi Utara, ekoin.co – Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, dilanda banjir bandang pada Senin (5/1/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WITA akibat hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama kurang lebih lima jam.
Banjir bandang menyebabkan 14 orang meninggal dunia, 25 warga luka-luka, dan satu orang masih dinyatakan hilang.
Korban merupakan warga Pulau Siau, sementara penanganan dilakukan pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan instansi terkait.
Sejumlah wilayah di Kecamatan Siau Timur dan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.
Curah hujan tinggi memicu luapan air bercampur material tanah, batu, dan kayu dari wilayah perbukitan.
Arus deras menerjang permukiman warga, merusak rumah, menutup jalan, dan memaksa ratusan warga mengungsi.
Kapendam XIII/Merdeka, Kolonel Infanteri Andi Suharto mengatakan, TNI telah mengerahkan personel untuk membantu penanganan darurat di lokasi bencana.
“Sebanyak dua peleton prajurit TNI dikerahkan untuk membantu pencarian korban hilang, evakuasi warga, serta penanganan darurat bersama Polri dan pemerintah daerah,” kata Andi Suharto dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).
Data sementara mencatat sebanyak 35 kepala keluarga atau 108 jiwa mengungsi ke lokasi aman yang telah disiapkan pemerintah daerah. Selain itu, 64 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat dan ringan, sementara 21 unit rumah lainnya hilang terseret arus banjir.
Banjir bandang juga menyebabkan sejumlah ruas jalan utama tertutup material tanah, batu, dan kayu, sehingga akses kendaraan belum dapat dilalui.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Paniki, Paseng, Bahu, serta Kampung Bumbiha, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Beong, dan Salili.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara turut menyalurkan bantuan logistik berupa kebutuhan pangan, perlengkapan bayi dan lansia, pakaian, kasur, serta mengirimkan alat berat untuk mendukung proses evakuasi dan pembersihan material banjir.
Bupati Kepulauan Sitaro menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari guna mempercepat proses penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Kementerian Pekerjaan Umum juga menurunkan personel teknis dan menyiagakan alat berat untuk membuka akses jalan.
Hingga Senin sore, proses pencarian korban hilang dan penanganan darurat masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah, TNI, Polri, serta instansi terkait, sembari menunggu kondisi cuaca yang lebih kondusif. (*)





